Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Efektivitas Rezim Internasional

Rezim internasional tidak selamanya fokus dengan kerjasama (perjanjian) yang dilakukan antar negara. Namun, rezim internasional juga mengangkat pandangannya dalam permasalahan isu lingkungan hidup. Terdapatnya rezim internasional mengenai lingkungan hidup ini tidak dapat bisa dikatakan dapat menguntungkan sebuah negara yang terlibat di dalamnya. Bukti ini dapat dilihat dalam artikel Hurrel dan Kingbury (2006) menjelaskan bahwa peran negara dalam menjalani rezim lingkungan hidup internasional tidak terlalu mendominasi karena peran negara dalam hal tersebut tidak akan membawa keuntungan bagi negara yang terlibat dalam rezim lingkungan internasional tersebut.

Efektivitas dalam rezim internasional ini dilihat dari fenomena yang sempit. Hal ini menjadi bukti bahwa sebenarnya  analisis dalam rezim internasional tidak selamanya konsen dengan hal-hal yang itu saja. Namun, menurut Underdal dan Young (2004) yang dikutip dalam artikel Stoke (2006) analisis rezim memperhatikan kelembagaan yang tergabung di dalam rezim secara luas dan miliki  seperti tema klasik sebagai pengaruh dirinya terhadap tatanan dunia, pola dominasi internasional, kohesi regional, kondisi dalam pencapaian perdamaian.

Keefektivitasan dalam rezim internasional ini dijelaskan oleh Levy et al. (1991) yang dikutip dalam artikel Stoke (2006) berdasarkan analisis rezim yang menyangkut keefektifitasan rezim tesebut dalam memberikan kontribusi yang signifikan untuk mengurangi atau memecahkan masalah yang membahas issue-specific. Selain itu, efektivitas dalam rezim internasional ini dijalankan untuk mencapai  tujuan yang memang dari awal telah diutarakan. Penyebab ini kemudian memberikan penggambaran bahwa dalam rezim internasional harus terdapat peraturan yang dapat menjaga itu semua. Alasan yang terpenting dengan adanya peraturan tersebut untuk pencapaian dalam efektivitas rezim internasional khususnya dalam isu lingkungan hidup.

Dalam Stoke (2006) dijelaskan mengenai tantangan yang akan dihadapi oleh rezim internasional mengenai isu lingkungan hidup yang dipandang melalui konsep efektivitas, yaitu mengidentifikasi bukti empiris yang digunakan dalam penyelesaian masalah, mengukuhkan bahwa rezim secara substansial berhubungan dengan perubahan yang dihadapi dalam penyelesaian masalah, memperhitungkan bagaimana berat efek yang akan ditimbulkan dalam rezim mengenai faktor-faktor penyebab rezim, dan mengukur efek-efek yang ditimbulkan sebagaimana mestinya. Terdapat alasan mengapa rezim internasional mengenai lingkungan hidup diciptakan yang dijelaskan oleh Hurrel dan Kingbury (2006), yaitu tingginya tingkat ketidakpastian mengenai definisi dan batasan, biaya respon kebijakan alternatif, dan identitas aktor dengan kepentingan-kepentingannya yang jauh dari self evident. Selain itu, karakter rezim lingkungan internasional dikatakan bersifat fleksibel, namun terdapat penjelasan lain yang mengatakan bahwa rezim lingkungan internasional bersifat spesifik. Dikatakan bersifat spesifik karena memiliki ketergantungan yang besar terhadap sifat isu, tingkat pengetahuan tentang isu, dan biaya pilihan kebijakan alternatif.

Menurut Edith Brown Weiss (1997) efektivitas yang mengandung dalam rezim internasional, khususnya lingkungan hidup mengenai kesepakatan-kesepakatan yang dilaksanakan ini apakah sudah mencapai tujuan dan dapat memecahkan masalah yang ada. Dalam artikel Hurrel dan Kingbury (2006) menjelaskan mengenai hal yang menjadi penyumbat untuk pencapaian rezim internasional lingkuhan hidup ini mengenai perbedaan prinsip negara maju dengan negara berkembang. Hal ini kemudian memberikan penggambaran bahwa perbedaan prinsip ini berdasarkan karakter isu dan struktur kepentingan negara.

Terdapatnya rezim internasional lingkungan hidup memberikan hal yang menguntungkan bagi negara berkembang. Alasan yang mampu menjelaskan pernyataan tersebut karena diberikan kebebasan hak bagi negara berkembang dalam menggunakan sumber daya alam yang dimiliki. Hak yang dimiliki negara berkembang tersebut, yaitu hak berdaulat. Selain itu, dengan adanya hal ini menjadi salah satu alasan dalam pelaksanaan rezim internasional lingkungan hidup yang nantinya akan dijalani oleh negara-negara untuk keterlibatannya di dalam kerjasama.

Referensi :

Stokke, Olav Schram. (2006). Determining the Effectiveness of International Regimes. Diakses pada tanggal 12 Mei 2012, dari: http://www.svt.ntnu.no/iss/fagkonferanse2007/intern/papers/olav.s.stokke@fni.noStokkeDetermRegimeEffectiveness.PDF

Hurrel, Andrew & Kingbury, Benedict. (2006). “The International Politics of The Environment: Introduction”. Dalam Dewi Utariah, The International Politics of The Environment. Diakses pada tanggal 12 Mei 2012, dari: http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2009/05/the_international_politics_of_the_environment.pdf

Joan E. Donoghue, Benedict Kingsbury, Oran Young, Abram Chayes, Edith Brown Weiss, George Downs, 1997, “Theme Plenary Session: Implementation, Compliance and Effectiveness”, Proceedings of the Annual Meeting of American Society of International Law, Vol. 91,Implementation, Compliance and Effectiveness (APRIL 9-12, 1997), pp. 50-73 dalam http://www.jstor.org/stable/25659102.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :