Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Warisan Sosial di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang memiliki kemajemukan. Kemajemukan di dalam ragam masyarakat yang tergabung di dalam. Kemajemukan yang terjadi di Indonesia bukan menjadi sesuatu hal yang baru, namun hal ini merupakan warisan yang telah diterima oleh bangsa Indonesia sebelumnya. Dengan terdapatnya kemajemukan ini bisa berakibat mendatangkan suatu konflik yang nantinya akan dihadapi diseluruh kalangan tanpa terkecuali. Menurut konsepsi yang diutarakan oleh Furnivall masyarakat majemuk ialah masyarakat yang dalam sistem nilai dan dianut oleh berbagai kesatuan sosial yang menjadi bagian sedemikian rupa sehingga menimbulkan para anggota masyarakat kurang memiliki loyalitas terhadap masyarakat lainnya atau kurang memiliki dasar-dasar untuk saling memiliki satu sama lain (Nasikun 1995, 32).

Kemajemukan di Indonesia bisa dilihat begitu jelas dengan terdapatnya perbedaan yang dialami setiap masyarakat, yaitu perbedaan dalam suku-bangsa, perbedaan agama, adat, dan kedaerahan (Nasikun 1995, 28). Terdapat hal yang dapat memberikan pembuktian jika di dalam masyarakat yang majemuk maka tidak terdapatnya kehendak bersama (common will). Selain itu, dengan alasan yang sama karena kemajemukan ini dalam kehidupan ekonomi menjadi tidak adanya permintaan sosial yang dihayati bersama oleh elemen masyarakat (Nasikun 1995, 29-30).

Kemajemukan masyarakat yang terjadi di Indonesia disebabkan karena adanya pluralitas. Terdapat tiga faktor yang menyebabkan adanya pluralitas tersebut, yaitu keadaan geografis yang membagi Indonesia dari Sabang sampai Merauke, keberagaman agama yang terdapat di Indonesia, dan perbedaan iklim dan struktur tanah yang tidak sama diantara daerah satu dengan daerah yang lainnya (Nasikun 1995, 35-39). Selain itu, terdapat penjelasan mengenai struktur masyarakat yang terdapat di Indonesia. Struktur masyarakat tersebut dibedakan menjadi dua, yaitu secara horizontal, yaitu dengan adanya perbedaan dalam suku-bangsa, agama, adat, dan kedaerahan, dan secara vertikal, yaitu struktur masyarakat Indonesia yang ditandai dengan adanya lapisan atas dan lapisan bawah (Nasikun 1995, 28).   

Munculnya bangsa Indonesia sebagai negara yang merdeka tidak memberikan gambaran bahwa telah memberikan persinggungan yang sangat terlihat jelas. Namun, perbedaan yang terjadi ini lebih kepada sifat yang saling silang-menyilang (cross-cutting). Sifat yang seperti ini telah memberikan perbedaan mengenai apa yang terjadi tentang warisan sosial yang dihadapi oleh bangsa Indonesia sebelum dan sesudah merebut kemerdekaannya (Nasikun 1995, 85).  

Dengan paparan yang diberikan sebelumnya penulis menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia yang terdiri dari masyarakat majemuk, bisa dikatakan sebagai bangsa yang kurang memahami mengenai rasa saling memiliki. Namun, hal ini kemudian bisa dirubah pandangannya karena bangsa Indonesia saat sudah berhasil merebut kemerdekaannya semakin mengerti akan rasa saling memiliki. Rasa saling memiliki ini karena adanya Pancasila yang dianggap sebagai pedoman hidup bangsa Indonesia. Hal inilah yang kemudian memberikan pemaknaan sesungguhnya bahwa masyarakat yang majemuk sekalipun seharusnya memiliki rasa saling memiliki. Rasa saling memiliki yang terjadi di dalam masyarakat majemuk ini bisa disebut sebagai pluralitas.

 

Referensi :

Nasikun. 1995. “Struktur Majemuk Masyarakat Indonesia” dalam Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, pp 27-50.

Nasikun. 1995. “Struktur Masyarakat Indonesia dan Masalah Integrasi Sosial” dalam Sistem Sosial Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, pp. 61-87.

Hefner, Robert W. 2005. “Social Legacies and Possible Futures” dalam John Bresnan (ed.), Indonesia: The Great Transition. Lanham: Rowman & Littlefield Publisher Inc, pp 75-136.

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :