Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Dinamika Rezim: Bangkit dan Runtuhnya Rezim Internasional

Rezim merupakan wadah bagi para aktor dalam mencapai kepentingan bersama. Rezim internasional merupakan institusi sosial yang mempengaruhi tindakan berdasarkan kepentingan dalam kegiatan tertentu. Selain itu, dalam rezim terdapat struktur sosial. Struktur sosial menjelaskan mengenai fungsi yang akan dilakukan oleh rezim tersebut. Dalam pelaksanaan fungsi rezim tersebut lebih menyumbangkan kepada pemenuhan fungsi rezim secara pasti (Young 1982, 277).

Kepentingan merupakan hal yang menjadi penyebab bagaimana rezim internasional itu terbentuk. Kepentingan yang dimiliki setiap aktor-aktor yang tergabung di dalam rezim internasional merupakan permintaan yang menjadi dasar rezim internasional itu terjadi. Dengan adanya kepentingan yang ingin dicapai di dalam sebuah rezim akan mempengaruhi bagaimana perilaku dari setiap aktor yang tergabung di dalamnya. Perilaku yang dijalankan oleh setiap aktor tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar dalam rezim internasional. Dapat dilihat bahwa perilaku yang dimiliki setiap aktor tersebut mempengaruhi agar kepentingan yang ingin dicapai oleh setiap aktor tersebut akan terwujud. Hal tersebut dalam artikel Young disebutkan sebagai human artifacts (Young 1982, 278).   

Rezim sebagai human artifacts merupakan rezim ada karena adanya kontribusi dari manusia. Dalam hal ini rezim erat kaitannya dengan perilaku kelompok dan individu yang ada di dalamnya (Young 1982, 279). Perilaku yang dimiliki setiap aktor tidak dapat dipisahkan karena adanya kepentingan yang ingin dicapai oleh setiap aktor tersebut. Namun, dalam pelaksanaan untuk mencapai kepentingan tersebut, setiap aktor biasanya melakukan kerjasama yang nantinya akan memunculkan adanya kepentingan bersama. Kepentingan bersama ini kemudian menggeser dari adanya keinginan dari setiap aktor yang ingin mewujudkan kepentingannya masing-masing. Kepentingan bersama terwujud karena adanya kebaikan bersama.

Dalam artikel Young menjelaskan bahwa rezim terbentuk ke dalam tiga bentuk tatanan yang mempengaruhi formasi dari rezim itu sendiri, yaitu spontaneous orders, negotiated orders, dan imposed orders. Spontaneous orders merupakan rezim yang tidak memerlukan adanya kesepakatan eksplisit yang terjadi di dalam kesadaran dari para aktor yang terlibat di dalamnya. Selain itu, dalam spontaneous orders tidak memerlukan tatanan yang prosedural. Dengan tidak adanya tatanan yang prosedural menyebabkan biaya yang nantinya akan dikeluarkan oleh para aktor dalam rezim tidak begitu tinggi. Namun, terdapat hal-hal lain yang mencirikan bahwa dengan spontaneous orders posisi para aktor yang terlibat tidak perlu dikhawatirkan dan tidak memerlukan persyaratan yang prosedural (Young 1982, 283).

Negotiated orders berbeda dengan spontaneous orders karena dalam tatanan ini lebih mementingkan adanya kesadaran yang dimiliki oleh para aktor, perlu kesepakatan eksplisit yang terjadi diantara aktor yang terlibat, dan terdapat pembatasan mengenai kebebasan akibat dari terbentuknya rezim itu sendiri oleh para aktor yang terlibat di dalamnya. Dengan adanya kesepakatan eksplisit maka akan menimbulkan perbedaan dari tatanan pertama yang tadi dijelaskan dengan tatanan kedua ini karena dengan adanya kesepakatan eksplisit akan berdampak pada persoalan biaya lebih tinggi yang akan dikeluarkan oleh para aktor yang terlibat di dalam rezim tersebut (Young 1982, 283).

Imposed orders merupakan tatanan rezim yang sengaja dibentuk oleh aktor yang lebih dominan, namun dalam pembentukan ini dibutuhkan adanya aktor lain yang berfungsi sebagai  pendukung rezim tersebut. Dalam tatanan imposed orders ini tidak memerlukan adanya kesepakatan eksplisit yang terjadi di antar aktor yang terlibat. Selain itu, telah dijelaskan bahwa dengan terbentuknya rezim karena pengaruh dari aktor dominan memiliki pengaruh yang nantinya akan mengakibatkan para aktor lain, yaitu pendukung masuk. Namun,  pembuatan rezim ini dilakukan dengan tindakan koersi, kooptasi, dan manipulasi intensif (Young 1982, 284). Selain itu, dengan masuknya aktor pendukung ini juga memperhitungkan keuntungan yang akan diraih oleh aktor pendukung tersebut karena telah masuk di dalam rezim yang telah dibuat oleh aktor dominan.    

Rezim internasional juga memiliki sifat dinamis. Sifat dinamis ini mempengaruhi perkembangannya yang selalu bertransformasi karena pengaruh menyesuaikan dengan dinamika yang ada. Terdapat tiga faktor yang mempengaruhi terjadinya transformasi, yaitu internal contradiction, underlying structure of power, dan exogenous force. Internal contradiction menjelaskan bahwa transformasi yang terjadi di dalam rezim tersebut akan berujung pada kegagalan. Selain itu, akan terjadi perubahan besar di dalam rezim tersebut. Underlying structure of power menjelaskan bahwa restrukturisasi yang terjadi di dalam rezim sebenarnya tidak berada dalam posisi netral. Dalam hal ini restrukturisasi masih dipengaruhi oleh adanya kekuasaan dominan yang terjadi di dalam rezim tersebut. Sedangkan, exogenous force merupakan alasan bahwa dengan adanya kekuatan dari luar rezim itu sendiri menyebabkan transformasi yang terjadi di dalam rezim.

Kesimpulan yang didapat ialah dengan kemunculan rezim yang diakibatkan karena adanya kepentingan dari para aktor. Namun, dengan adanya rezim tersebut mengakibatkan adanya kebangkitan yang bisa diraih juga oleh rezim yang dijalankan. Selain itu, suatu rezim yang terjadi di antara aktor-aktor yang terlibat dapat mengalami tranformasi. Transformasi dalam rezim tersebut merupakan akar yang akan berakibat pada keruntuhan sebuah rezim. Keruntuhan yang terjadi ini bisa diakibatkan dari salah satu atau dua dari akibat yang telah dipaparkan sebelumnya.    

 

Referensi :

Young, Oran R. 1982. “Regime Dynamics: The Rise and Fall of International Regimes”, International Organization, Vol. 36, No. 2, International Regimes (Spring, 1982), pp.277-297

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :