Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Feminisme dalam Hubungan Internasional

Dalam perkembangan hubungan internasional, pandangan-pandangan yang terdapat di dalam hubungan internasional mengalami perkembangan. Perkembangan yang dialami dalam pandangan-pandangan ini mengalami pergerakan karena adanya perbedaan pendapat yang berakibat menimbulkan pertentangan diantara pandangan satu dengan yang lainnya. Salah satu perdebatan yang terjadi ini dengan adanya pandangan baru mengenai gender (feminisme). Pandangan feminisme merupakan perdebatan yang mendasar antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, terjadinya perdebatan ini karena adanya perbedaan yang terjadi di dalam politik dunia (Jackson dan Sorensen 2009, 331).

Adanya feminisme yang dibahas dan menjadi isu-isu baru dalam hubungan internasional ini karena adanya perdebatan yang terjadi mengenai gender. Namun, bukan hanya gender semata yang menjadi salah satu alasan feminisme muncul, tetapi karena adanya perbedaan mengenai sex merupakan hal yang menyebabkan feminisme muncul. Terdapat perbedaan yang membedakan mengenai gender dan sex. Gender merupakan mindset yang diterapkan karena culture yang dipegang oleh masing-masing individu (masyarakat). Dalam hal ini gender tidak memiliki simbol yang menjadi patokan bahwa hal ini yang dikatakan sebagai gender. Sedangkan, berbeda dengan sex merupakan kodrat yang memang sudah seharusnya yang merupakan simbol pembeda antara wanita dan pria dan hal itu tidak bisa diubah karena berkaitan dengan keadaan biologis.      

Terdapatnya feminisme karena adanya tuntutan dari para wanita dengan alasan wanita bisa memberikan kontribusinya. Kontribusi dalam hal yang biasa dilakukan oleh laki-laki. Kontribusi yang bisa dilakukan wanita dalam kontribusinya di hubungan internasional mengenai feminisme (gender perspective), yaitu ontologi, aksiologi, dan epistemologi. Dalam perspentik ontologi menjelaskan bahwa kontribusi wanita dalam kajiannya mengenai feminisme memperluas dan mendorong untuk membuka siapa subjek dalam hubungan internasional dan membuat hal-hal yang dulunya bukan kajian hubungan internasional menjadi kajian dalam hubungan internasional. Dalam perspektif aksiologi menjelaskan bahwa kontribusi feminisme mengenai subjek diperluas dan efek dari bagian-bagian yang dipelajari dalam hubungan internasional semakin nyata. Sedangkan, dalam perspektif epistemologi menjelaskan bahwa kontribusi feminisme berhubungan dengan negara (Dugis 2013).

Hubungan internasional dikatakan maskulin dan tidak memikirkan tentang feminisme. Hal ini menjadi salah satu alasan bagi para pejuang feminisme untuk mempertahankan mengenai feminisme. Menurut Ticker, hubungan internasional berdasarkan priviledge activity, yaitu hubungan internasional merupakan dunia laki-laki (man’s world) dan hubungan internasional merupakan dunia tentang power dan konflik (Wardhani 2013). Selain itu, pendekatan feminisme dibagi menjadi tiga, yaitu konseptual, empiris, dan normatif. Pendekatan konseptual menjekaskan bahwa dalam lensa feminisme memberi arti terhadap global politic yang selama ini tidak pernah diartikan secara empiris. Pendekatan empiris menjelaskan perlunya untuk melihat realitas yang ada di sekitar, memahami causes, dan predicting outcomes. Sedangkan, pendekatan normatif menjelaskan mengenai promoting positives changes.

Perkembangan feminisme tidak hanya selalu berbicara mengenai ruang lingkup wanita saja, namun mereka berbicara dalam sektor lain juga. Fokus yang diutarakan oleh kaum feminisme, yaitu non state actor, marginalized peoples, dan alternative conceptualizaitons of power. Terdapatnya feminisme dalam hubungan internasional ingin memberikan paradigma baru karena dalam hubungan internasional sendiri masih fokus  dengan “a singular focus”. Selain itu, interstate relations dalam hubungan internasional tidak dipandang secara feminis (Wardhani 2013).

Terdapat tiga perdekatan utama mengenai feminisme, yaitu feminisme liberal, feminisme marxis/sosialis, dan feminisme radikal (Jackson dan Sorensen 2009, 335). Feminisme liberal memiliki kajian utama yang menjelaskan bahwa terdapat hak-hak yang sama antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, feminisme liberal menunjukkan bahwa hak-hak liberal dasar atas kehidupan, kebebasan, dan kepemilikan tidak meluas dalam tindakan yang sama bagi perempuan (Jackson dan Sorensen 2009, 335). Selain itu, feminisme liberal menjelaskan mengenai kategori gender memiliki perbedaan antara kategori sex karena hal ini lebih menunjukkan kepada penilaian yang eksplisit antara laki-laki dan perempuan, bukan kontruksi penuh dan mutual dari maskulinitas dan feminitas (Burchill dan Linklater 2009, 287).   

Feminisme marxis/sosialis menjelaskan bahwa posisi perempuan dalam struktur ekonomi, sosial, dan politik digambarkan rendah. Hal ini dapat dilihat bahwa dalam pekerjaan yang dilakukan oleh laki-laki dengan perempuan berbeda karena laki-laki melakukan pekerjaan produktif dengan bayaran yang lebih tinggi dibanding perempuan. Sedangkan, perempuan dianggap sebagai wanita kelas dua yang melakukan pekerjaan di rumah, namun bisa dikatakan bahwa perempuan melakukan pekerjaan di luar rumah tetapi dalam hal ini pembedaan gaji antara laki-laki dan perempuan sangat terlihat tidak seimbang karena perempuan mendapatkan gaji yang rendah. Dengan alasan inilah, pendekatan feminisme marxis/sosialis memfokuskan bahwa pandangannya lebih kepada cara-cara bagaimana kapitalisme dan patriarki menempatkan posisi yang tidak istimewa bagi perempuan (Jackson dan Sorensen 2009, 336-337).

Feminisme radikal lebih memfokuskan pandangannya untuk mengembangkan analisis feminis yang lebih nyata dan lebih merdeka yang sepenuhnya dapat mencegah mensubordinasikan gender pada agenda tradisional hubungan internasional (Jackson dan Sorensen 2009, 337).  Hal yang dimaksudkan ialah membunuh pemikiran mengenai laki-laki yang dikatakan sebagai nomor satu (paling utama). Berkembangnya pandangan mengenai feminisme menjelaskan dengan adanya keinginan yang diungkapkan oleh kaum feminis dalam mencapai hak-hak yang disetarakan dengan laki-laki. Mereka lebih menekankan dengan adanya kontribusi yang diberikan oleh kaum feminis dengan memunculkan paradigma baru dalam hubungan internasional dan memperluas subjek yang di bahas dalam hubungan internasional.

Referensi :

Wardhani, Baiq L. S. 2013. Gender and Feminism, materi disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional. Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 16 Mei 2013.

Dugis, Vinsensio. 2013. Gender and Feminism, materi disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional. Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 16 Mei 2013.

Burchill, Scott, dan Andrew Linklater. 2009. Teori-Teori Hubungan Internasional (terj. M. Sobirin, Theories of International Relations). Bandung: Nusamedia.

Jackson, Robert, dan Georg Sorensen. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional (terj. Dadan Suryadipura, Introduction to International Relations). Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :