Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Wawasan Nusantara Sebagai Geopolitik Indonesia

Konsep geopolitik merupakan ilmu penyelenggaraan negara yang setiap kebijakannaya dikaitkan dengan masalah-masalah geografi wilayah atau tempat tinggal suatu bangsa. Negara Indonesia memiliki kelemahan dan kekuatan yang dimiliki karena negara Indonesia memiliki kekuatannya yang terletak pada posisi dan keadaan geografi yang strategis dan kaya sumber daya alam. Kelemahan yang ada terletak pada rupa (wujud) kepulauan dan keanekaragaman masyarakat yang harus disatukan dalam satu bangsa dan satu tanah air (Modul Kewarganegaraan 2012, 114). Selain itu, Indonesia memiliki prinsip-prinsip dasar yang digunakan sebagai pedoman agar tidak terombang-ambing dalam memperjuangkan kepentingan nasional untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasionalnya. Dapat diketahui bahwa terdapat satu pedoman yang dipegang oleh bangsa Indonesia, yaitu wawasan nasional yang berpijak pada wujud wilayah nusantara atau yang biasa dikenal dengan sebutan wawasan nusantara.

Bangsa Indonesia memiliki kepentingan nasional yang mendasar, yaitu adanya upaya menjamin persatuan dan kesatuan wilayah, bangsa, dan segenap aspek kehidupan nasional bangsa Indonesia sendiri (Modul Kewarganegaraan 2012, 114-115). Hal ini menjadi upaya yang dilakukan oleh bangsa dan Negara Indonesia Indonesia agar tetap eksis dan dapat melanjutkan perjuangan menuju masyarakat yang dicita-citakan. Sebenarnya yang menjadi tujuan utama dalam kepentingan nasional Indonesia adalah cara menjadikan bangsa dan wilayah Indonesia satu dan utuh. Alasan tersebut menjadi penentu utama karena merupakan turunan dari cita-cita nasional dan tujuan nasional, serta visi nasional. Selain itu, terdapat pandangan geopolitik bagi bangsa Indonesia, yaitu dengan dasaran yang berpegang teguh dengan nilai-nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan yang luhur. Hal tersebut telah tercantum di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Dapat dilihat sebenarnya bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, tetapi lebih mencintai kemerdekaan karena bangsa Indonesia menolak segala bentuk penjajahan yang tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan (Modul Kewarganegaraan 2012, 115).

Istilah geopolitik pertama kali diartikan oleh Frederic Ratzel (1844-1904), yaitu ilmu bumi politik. Kemudian dikembangkan oleh Rudolph Kjellen (1864-1922) dan Karl Haushofer (1869-1964) dengan sebutan Geographical Politik (Geopolitik). Dari kedua istilah yang dikemukakan oleh ilmuwan tersebut memiliki perbedaan dari makna yang dikandung karena dalam istilah Ilmu bumi politik (Political Geography) mempelajari mengenai fenomena geografi dari aspek politik, sedangkan geopolitik mempelajari mengenai fenomena politik dasi aspek geography. Dapat diketahui bahwa dalam geopolitik memaparkan dasar pertimbangan dalam menentukan alternatif kebijaksanaan nasional untuk meeujudkan tujuan tertentu. Selain itu, dalam sejarah telah diketahui bahwa pengertian geopolitik telah dipraktekkan pada abad XIX, namun pengertiannya baru tumbuh pada awal abad XX sebagai ilmu penyelenggaraan Negara yang setiap kebijakannya dikaitkan dengan masalah-masalah geografi wilayah yang menjadi tempat tinggal suatu bangsa (Modul Kewarganegaraan 2012, 115).

Menurut Sunarso, secara etimologi geopolitik terdiri dari geo yang berasal dari bahasa Yunani, yang berarti bumi yang menjadi wilayah hidup dan politik yang berasal dari kata polis, yang berarti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri atau negara, serta teia yang berarti urusan (politik) bermakna kepentingan umum warga negara suatu bangsa (Modul Kewarganegaraan 2012, 116). Terdapat teori-teori geopolitik yang telah ada secara global, yaitu Teori Geopolitik Frederich Ratzel, Teori Geopolitik Rudolf Kjellen, Teori Geopolitik Karl Haushofer, Teori Geopolitik Halford dan Mackinder, Teori Geopolitik Alfred Thayer Mahan, Teori Geopolitik Guilio Douhet, William Mitchel, Saversky, dan JFC Fuller, dan Teori Geopolitik Nicholas J. Spijkman (Modul Kewarganegaraan 2012, 116-120).

Geopolitik yang diartikan sebagai sistem politik atau peraturan-peraturan dalam wujud kebijaksanaan dan strategi nasional yang didorong oleh aspirasi nasional geografik, yaitu mengenai kepentingan yang titik beratnya terletak pada pertimbangan geografi, wilayah, atau teritorial dalam arti luas, suatu negara, yang apabila dilaksanakan dan berhasil akan berdampak langsung kepada sistem politik suatu negara (Modul Kewarganegaraan 2012, 121). Dapat diketahui bahwa geopolitik yang ada sebenarnya bertumpu pada geografi sosial (hukum geografis), yang membahas situasi, kondisi, atau konstelasi geografi dan segala sesuatu yang dianggap relevan dengan karakteristik geografi suatu negara. Selain itu, bagi bangsa Indonesia mengenai keadaan geografi yang dimilikinya memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing karena dapat dikatehui bahwa bangsa Indonesia merupakan negara kepulauan. Kekuatan yang dipegang oleh bangsa Indonesia, yaitu terletak pada keadaan geografi yang strategis dan kaya sumber daya alam. Sedangkan, kelemahan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, yaitu karena adanya pengaruh dari bentuk negaranya sendiri yang berbentuk kepulauan dan keanekaragaman masyarakat yang harus disatukan dalam satu bangsa dan satu tanah air (Modul Kewarganegaraan 2012, 122).

Alasan yang dikemukakan sebelumnya memang menjadi alasan, namun dalam hal ini bangsa Indonesia juga memiliki prinsip-prinsip yang dipegang sebagai pedoman agar tidak terombang-ambing dalam memperjuangkan kepentingan nasional untuk mencapai cita-cita dan tujuan nasionalnya. Dengan pijakan dasar yang berpegang teguh dengan wawasan luas ini menjadi alasan bahwa dengan hal ini maka bangsa Indonesia tetap eksis dan dapat melanjutkan perjuangan menuju masyarakat yang dicita-citakan (Modul Kewarganegaraan 2012, 122). Selain itu, dengan pernyataan sebelumnya yang telah diuraikan bahwa pandangan geopolitik bangsa Indonesia yang didasarkan pada nilai-nila Ketuhanan dan Kemanusiaan yang tercantum di dalam UUD 1945. Hal ini menjadi alasan sendiri karena mengenai wilayah yang dikaitkan dengan politik (kekuasaan).

Bangsa Indonesia juga menolak adanya paham ekspansionisme dan adu kekuatan yang berkembang di Barat. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengenai pandangan geopolitik yang dianut oleh bangsa Indonesia sendiri. Selain itu, bangsa Indonesia juga menolak adanya paham rasionalisme. Dalam hubungan internasional, bangsa Indonesia berpijak pada paham kebangsaan atau nasionalisme yang membentuk suatu wawasan kebangsasan yang menolak pandangan Chauvinisme. Dapat diketahui bahwa bangsa Indonesia sendiri lebih terbuka dalam melakukan jalinan kerjasama antar bangsa karena dalam rangka mewujudkan perdamaian dan ketertiban dunia. Kesimpulan yang dapat diambil, yaitu geopoltik yang dianut oleh bangsa Indonesia adalah wawasan Nusantara. Wawasan Nusantara yang menjadi geopolitik bangsa Indonesia mengandung unsur ruang, yang kini berkembang tidak saja secara fisik geografis, melainkan dalam pengetian secara keseluruhan.  Selain itu, dengan prinsip geopolitik Indonesia yang menandakan dalam hal wilayah, bangsa Indonesia tidak ada semangat untuk memperluas wilayah sebagai ruang hidup (lebensraum). Dalam memahami geopolitik yang dianut oleh bangsa Indonesia secara singkat dan jelas bahwa Wawasan Nusantara sebagai cara pandanga Bangsa Indonesia dan sebagai visi nasional yang mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa masih tetap sah (solid) baik untuk saat sekarang maupun masa mendatang.

Referensi :

Modul Kewarganegaraan 2012

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :