Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Kebijakan Pertahanan yang Diterapkan di Indonesia

Indonesia telah mengalami fluktuasi yang terjadi di dalam mempertahankan wilayahnya baik itu sebelum kemerdekaan maupun sesudah kemerdekaan terjadi. Pelaksanaan yang diterapkan dalam mempertahankan pertahanannya dilihat dengan adanya tindakan dari pemerintah yang menginginkan adanya persiapan dalam menghadapi kejadian perang yang mungkin akan melibatkan Indonesia kembali. Keterlibatan Indonesia yang menjadi acuan dalam pelaksanaannya ini berakibat pada persiapan yang nantinya akan digunakan oleh Indonesia. Hal ini merupakan persiapan diri untuk mempertahankan diri mempertahankan tumpah darah Indonesia (Nasution 1984, 77).

Pertahanan yang dilakukan oleh Indonesia merupakan tindakan dalam menjaga diri dari ancaman yang datang. Ancaman tersebut akan mendatangkan peperangan. Namun, dalam pelaksanaan ini sebagai negara berkembang, Indonesia, lebih memilih tindakan, yaitu menghindar karena tindakan tersebut merupakan tindakan aman (Nasution 1984, 78). Pertahanan Indonesia dalam hal ini memiliki kelemahan maupun kelebihan karena jika dilihat dengan keadaan geografis yang dimiliki Indonesia. Hal ini memiliki pengaruh mengenai terlalu luas dan panjang untuk mengatur pertahanan yang cukup rapat erat menjamin setiap tempat. Terdapat dua alasan yang menjelaskan keadaan tersebut. Pertama, perlunya memiliki tenaga (terutama udara) yang bermanfaat dalam pengintaian yang sejauh-jauh dan serapi-rapinya sekeliling Nusantara untuk dapat mengetahui kedatangan musuh penyerbu. Kedua, adanya penyerangan lokal yang dilakukan jika musuh mendapatkan daerah (Nasution 1984, 79).

Keinginan yang ingin dilakukan Indonesia dalam memperjuangkan pertahanannya ini harus diimbangi dengan adanya peningkatan dalam modal yang diberikan kepada militer-militer baik darat, laut, maupun udara. Namun, hal ini menjadi permasalahan yang tidak memungkinkan akan terjadinya hal seperti ini. Dapat diketahui bahwa peralatan canggih belum bisa dimiliki oleh para militer bumi Nusantara ini karena modal yang dimiliki kecil yang tidak setara dengan yang dilakukan oleh negara maju. Namun, dalam mempertahankan pertahanan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia harus memiliki keyakinan yang mendasari diri dari setiap individu bahwa dapat menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Selain itu, adanya perasaan bahwa individu yang terlibat ini mengemban tugas di dunia yang penuh dengan pertentangan dan ancaman (Simatupang 1981, 218).

Bukan hanya dalam persoalan senjata yang menjadi salah satu alasan dalam mempertahnkan pertahanan yang dimiliki Nusantara. Namun, dengan adanya pengaruh dari letak strategis Nusantara yang sangat strategis juga menjadi hal yang sangat penting, serta dengan adanya kekayaan mineralnya dan lain-lain yang diperlukan oleh dunia yang berperang seperti minyak, karet, timah (Nasution 1984, 77). Hal ini semua mencakup keadaan geopolitik yang dimiliki oleh Indonesia karena dapat dilihat melalui letak, luas, dan bentuk negeri, serta terdapatnya penduduk, sumber-sumber kekayaan, dan keadaan sosial politik yang mempengaruhi Indonesia menjadi alasan berikutnya dalam hal pertahanan yang dijaganya (Simatupang 1981, 218-236). Selain itu, terdapatnya politik luar negeri Indonesia juga menempatkan dirinya ke dalam posisi yang seharusnya dalam hal pertahanan ini.

Pertahanan yang dilakukan oleh Indonesia saat ini masih mempergunakan dan mempertahankan perang gerilya. Perang gerilya ini merupakan teknik perang yang digunakan oleh bangsa Indonesia ketika dahulu dijajah Belanda. Selain itu, dengan adanya perang ini menjadi alasan yang pantas mengingat wilayah Indonesia yang berbentuk kepulauan dan luas. Hal yang memadai terhadap perang gerilya tersebut dilihat dengan keadaan jalan-jalan, gunung-gunung dan hutan-hutannya merupakan syarat-syarat yang sesuai dalam mempertahankan pertahanan Indonesia dengan perang gerilnya (Nasution 1984, 82). Namun, perang gerilya tersebut merupakan tindakan yang defensif karena belum sepenuhnya dapat memperjuangkan terhadap yang apa yang dipertahankan. Hal ini menjadi salah satu alasan bahwa perang gerilya masih melakukan tindakan menghindar dari musuh. Dengan alasan itulah maka perang gerilya tersebut tidak dapat meningkatkan levelnya ke anti gerilya yang bersifat lebih agresif, mobilitas, dan fleksibel.

Pertahanan yang dilakukan bangsa Indonesia sebaiknya dilihat dengan menilai letak, luas, dan bentuk negara Indonesia. Hal ini menjadi salah satu alasan untuk dapat mempertahankan pertahanan yang menjadi kewajiban dalam menjaga negara dan bangsa Indonesia. Selain itu, perlu adanya peningkatan dalam strategi perang gerilya yang bersifat defensif menjadi lebih agresif.

Referensi :

Nasution, AH. 1984. “Gerilya dan Perang Kita yang akan Datang”, dalam Pokok-Pokok Gerilya dan Pertahanan Republik Indonesia di Masa Lalu dan Masa yang akan Datang, Bandung: Penerbit Angkasa, pp. 77-117.

Simatupang, Mayjen, T.B. 1981. “Geopolitik dan Masalah Pertahanan Kita”, dalam Pelopor Perang dalam Perang-Perang Pelopor Damai, Jakarta: Penerbit Sinar Harapan, pp. 198-240.

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :