Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Imperialisasi dan Imperiumisasi

Globalisasi yang terlihat dalam masa sekarang ini merupakan proses perkembangan ekonomi, politik dari negara-negara besar. Hal ini merupakan proses tranhistoris. Proses transhistoris ini mengacu kepada terjadinya imperialisme. Namun, sebaliknya terdapat pernyataan yang menyebutkan bahwa globalisasi merupakan transformasi dari imperialisme dan kapitalisme. Imperialisme yang berkembang di dalam tatanan dunia memiliki dampak yang berbeda-beda karena bagi negara maju dengan adanya imperialisme dikatakan baik. Hal ini dikarenakan negara maju merupakan negara pemegang kapital. Dengan adanya alasan seperti itu maka dapat disimpulkan bahwa imperialisme berhubungan dengan adanya power (Petras dan Veltmeyer dalam Callinicos 2007, 63). Sedangkan, bagi negara berkembang imperialisme membawa dampak buruk. Alasan yang mendasari bahwa imperialisme dikatakan buruk karena pengaruh dari adanya kapital-kapital yang semakin berkembang di dunia.

Terdapat tiga teori terkemuka yang menjelaskan mengenai kesenjangan dalam tatanan dunia, yaitu imperialisme, dependency, dan globalisasi. Imperialisme dapat dilihat dalam perwujudan ekspansi yang terjadi dengan alasan menguasai dan mendapatkan sumber yang terdapat di wilayah lain dan dilakukan oleh bangsa Barat. Perwujudan ini dikemal dengan penjajahan. Dependency merupakan pergerakan untuk melepaskan diri dari imperialisme. Pergerakan yang dijalankan ini ditandai dengan adanya penanaman modal yang dilakukan oleh perusahaan multinasional dan industri yang  bergabung ke dalam pasar negara berkembang. Sedangkan, globalisasi merupakan transformasi dari imperialisme. Hal ini dikatakan karena globalisasi telah mampu merusak tatanan kapitalis. Selain itu, dengan semakin berkembangnya globalisasi batas-batas negara sudah semakin memudar karena adanya interdependensi (Chilcote 2002, 81-83).

Imperialisme dibedakan menjadi tiga masa, yaitu classic imperialism, superpower imperialism, dan hyperpower imperialism. Classic imperialism yang terjadi pada tahun 1875-1945 dapat terlihat karena adanya kekuatan dominasi yang dipegang dari negara-negara di Eropa. Superpower imperialism terjadi pada tahun 1945-1990 yang terlihat karena adanya kemunculan dua blok antara Amerika dan Uni Soviet dan penyebab karena keruntuhan dominasi negara-negara Eropa merupakan salah satu alasannya. Sedangkan, hyperpower imperialism terjadi pada tahun 1990-sekarang karena adanya pembubaran Uni Soviet yang menyebabkan Amerika menjadi negara hegemon.

Imperialisme yang menjangkit di dunia ini bukan hanya mengacu pada bidang ekonomi saja, namun menjangkit seluruh aspek-aspek yang lain juga. Hal ini berbeda dengan imperiumisasi yang lebih memfokuskan dirinya ke dalam bidang ekonomi. Globalisasi yang bisa menimbulkan imperiumisasi dapat dilihat dari contoh negara Amerika Serikat yang dilihat dalam konteksnya sebagai negara hegemon. Negara hegemon ini dipegang oleh Amerika Serikat karena adanya intervention dari nilai-nilai yang ditularkan oleh Amerika Serikat dan hal ini bisa dikatakan sebagai proses Amerikanisasi. Proses inilah yang dapat dikatakan sebagai pola-pola imperiumisasi yang dijalankan oleh Amerika Serikat (Safril 2013). Terdapatnya imperiumisasi dapat dilihat dengan adanya penyebaran terhadap nilai-nilai yang disebarkan seperti contoh yang telah diutarakan sebelumnya. Nilai-nilai yang disebarkan karena imperiumisasi, yaitu free trade, freedom, dan liberal.

Imperiumisasi ini lebih dekat kepada dominasi dan eksploitasi yang dilakukan oleh aktor yang bersangkutan. Namun, terdapat hal yang memberikan warna berbeda terhadap globalisasi yang mengacu kepada imperialisme karena lebih memiliki ketergantungan antar negara. Ketergantungan ini dengan adanya kepentingan yang ingin dicapai oleh setiap negara. Imperialisme merupakan kontrol yang efektif dalam masyarakat yang empirial. Masyarakat empirial ini dibagi menjadi dua kategori, yaitu super-ordinat dan sub-ordinat. Masyarakat yang empirial ini merupakan gabungan dari kegiatan kapital karena terdapat perbedaan yang mendasari diantara kedua kategori dalam masyarakat empirial, yaitu super-ordinat yang lebih mengedepankan adanya struktur (berada diatas), sedangkan sub-ordinat merupakan masyarakat yang berada di bawah (Safril 2013).  

Berdasarkan paparan diatas, penulis menyimpulkan bahwa dengan adanya peran negara kapitalis, yaitu Amerika telah menumbuhkan terjadinya imperialisme. Imperialisme memiliki dampak positif maupun negatif. Selain itu, terjadinya imperiumisasi karena adanya penyebaran terhadap nilai-nilai. Dapat dilihat dari adanya negara hegemon yang mampu untuk menyebarkan nilai-nilai yang menjadi pedoman di negaranya untuk mempengaruhi negara lainnya.     

Referensi :

Safril, Ahmad. 2013. Imperialisme dan Imperiumisasi, dalam kuliah Pengantar Globalisasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, pada 16 Mei 2013.

Chilcote, Ronald H. 2002. “Globalisation or Imperialism?”, Latin American Perspectives, Vol. 29, No. 6, pp. 80-84.

Callinicos, Alex. 2007. Globalization, Imperialism and The Capitalist World System, dalam David Held dan A. McGrew.Globalization Theory: Approaches and Controversies. Cambridge: Polity Press, pp. 62-78.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :