Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Posmodern Nomads

Globalisasi yang telah terjadi dan sudah merambah dunia telah menghasilkan pola agensi baru. Munculnya agensi ini karena adanya maksud dan tujuannya dalam mengkritisi postmodern yang sudah terjadi. Alasan yang mendasari pengkritisan ini terjadi karena postmodern dianggap sudah tidak jalan dengan semestinya (Safril 2013). Namun, dalam hal ini yang menjadi pertanyaan, mengapa yang melakukan pengkritisan bukan aktor, melainkan agen? Hal ini terjadi karena agen yang dianggap bahwa cakupannya lebih luas dan aktornya adalah non-state actor. Selain itu, terdapat pertanyaan yang bergejolak mengenai mengapa aktornya bukan state, tetapi non-state actor? Dipilihnya non-state actor karena dalam pelaksanaannya state sangat mendukung dengan adanya globalisasi.

Agen yang ada ini memiliki alasan mengenai dirinya bertolak belakang dengan adanya state karena menurut agen globalisasi yang terjadi ini sudah tidak berjalan dengan semestinya. Hal ini bisa dilihat melalui beberapa alasan mengenai globalisasi yang terjadi, yaitu globalisasi telah menciptakan kemiskinan dan bukannya memperbaikinya, adanya penurunan dalam masalah social, welfare, health, dan educational, peran pihak swasta yang semakin berperan dibandingkan dengan negara, dan terdapatnya perusahaan yang menekankan dalam sistem big capital dan democracy. Munculnya agensi ini dikarenakan adanya protes yang diikuti dengan adanya Battle of Seattle (1999). Tindakan protes yang dilakukan mengenai globalisasi (Safril 2013).

Pengkritisan yang dilakukan oleh agensi ini dapat dilihat melalui kritik yang diterima melalui kajian analisisnya, hal ini terjadi di India. Kritik tersebut mengenai adanya definisi kelas yang menjabarkan identitas lebih dari konteks transnasional. Hal ini diambil dari adanya pembagian dalam bentuk konsumsi daripada pembagian dalam posisi ekonomi yang terjadi. Selain itu, dengan adanya definisi yang menyangkut masalah gender. Hal ini dapat dilihat dengan sikap dan perilakuk pemuda India yang sudah mengikuti gaya Barat, yang kemudian memasukkan kategori mereka ke dalam transnasional menengah. Adanya penilaian seperti ini dilihat pada pola konsumsi mereka yang kosmopolitan dan pengaturan gender.

Kritik yang dilakukan oleh agensi tersebut dilihat karena adanya penggeseran yang diakibatkan karena adanya globalisasi yang terjadi seperti halnya yang terjadi di India. Di India pergeseran yang diakibatkan karena globalisasi di awali dengan masuknya perdagangan bebas dan masuknya investor asing yang semakin menjamah negara berkembang tersebut. Mereka yang terjerumus karena adanya peluang bagi mereka untuk masuk ke dalam koneksi global. Hal ini dapat dilihat dengan adanya peningkatan dalam kemampuan orang-orang India dalam menggunakan bahasa Inggris dan transaksi transnasional yang kian mengglobal. Selain itu, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa telah terjadinya pergeseran dalam pelaksanaan kehidupan sehari-hari yang kini masyarakat India lebih mengikuti fashion Barat (Derne 2005, 177-186).  

Pergeseran yang terjadi tidak hanya dalam batasan dikalangan pemuda India saja, namun hal ini juga terjadi dengan wanita India. Wanita India yang dulunya dikenal dengan berdiam diri di rumah, namun dalam bahasan kali ini wanita India sudah menjadi target utama dari adanya globalisasi yang terjadi ini. Hal ini bisa dilihat dengan dampak terhadap produk-produk yang diiklankan di televisi seperti fashion and beauty, yang menjadikan akar permasalahan terhadap perubahan perilaku konsumerisme. Perilaku konsumerisme ini dilatarbelakangi dengan adanya TNCs yang ingin mengambil keuntungan dalam perubahan perilaku konsumerisme yang terjadi pada masyarakat India

Dalam pelaksanaanya, TNC yang hampir sama dengan NGO, namun memiliki karakteristik yang mengedepankan adanya profit. Hal ini dapat dilihat sebagai dampak karena semakin menyebarnya globalisasi yang terjadi di seluruh dunia tanpa adanya batasan. Selain itu, dapat dilihat dengan adanya globalisasi yang menjerumuskan masyarakat India yang dahulu kental dengan tradisinya, namun sekarang mereka semakin mengikuti pola globalisasi yang terjadi. Hal ini dipengaruhi dengan adanya bentuk konsumsi dan penataan yang mempengaruhi sistem gender. Hal ini dapat dilihat dengan adanya peran wanita yang digunakan sebagai agen konsumsi. Selain itu, seperti yang telah terjadi ini diharapkan agar mampu mengklasifikasi antara mengenai kelas-kelas yang berjalan dalam sistem tatanan yang semakin mengglobal.     

 

Referensi :

Derne, Steve. 2005. “Globalization and the Making of a Transnational Middle Class: Implication for Class Analysis”, dalam Richard P. Appelbaum dan W.I. Robinson, Critical Globalization Studies, New York: Routledge, pp. 177-186

Safril, Ahmad. 2013. Imperialisme dan Imperiumisasi, dalam kuliah Pengantar Globalisasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, pada 16 Mei 2013.

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :