Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Pandangan di Luar Konteks HI: Politik Hijau

Green perspective merupakan pandagan yang termasuk ke dalam teori yang berada di luar konteks bahasan dalam hubungan internasional. Hal ini terjadi juga pada pandagan feminisme dan konstruktivisme. Pandangan liberalisme dan sosialisme merupakan pandangan yang bertolak belakang dengan green perspective. Alasan utama yang mendasari pertentangan diantara pandangan-pandangan tersebut karena permasalahan lingkungan. Permasalahan lingkungan yang terjadi ini menjadi alasan utama yang menjadi penentu dalam aktivitas sosial dan ekonomi manusia yang memiliki keterkaitannya dengan lingkungan hidup (Jackson dan Sorensen 2009, 323).

Dapat diketahui bahwa green perspective merupakan pandangan yang membahas mengenai isu lingkungan. Green perspective ini menjadi pemisah antara anthropocentrism dengan ecocentric. Anthropocentrism merupakan pandangan yang terlalu berpusat kepada manusia. Sedangkan, ecocentric merupakan pandangan yang bersentral pada lingkungan. Selain itu, dengan munculnya pandangan mengenai green theory merupakan perspektif alternatif yang menjadi pengkritik dalam pandangan tradisionalis.Alasan yang mendasari perspektif ini menentang perspektif tradisionalis karena pandangan tradisionalis yang membahas mengenai perang atau dapat dikatakan bahwa pandangan tersebut terlalu berpusat kepada sistem negara (Wardhani 2013).

Korelasi green perspective dalam hubungan internasional, yaitu dengan memberikan pandangan kepada penstudi dan melihat fenomena hubungan antar negara dengan isu spesifik lingkungan, serta tidak hanya membahas isu mainstream saja. Awal mula munculnya isu-isu lingkungan terdapat di negara-negara maju. Adanya kedaulatan merupakan hal yang berpengaruh karena termasuk kategori penting dan inti. Namun, terdapat hal-hal yang dapat melanggar kedaulatan, yaitu isu-isu yang bersifat kosmopolitan (Wardhani 2013). Munculnya isu politik lingkungan yang terjadi pada tahun 1972 membuat adanya usaha-usaha yang dilakukan oleh manusia dalam menangani masalah isu lingkungan tersebut, yaitu dengan diadakannya Stockholm Conference yang menginisiasikan sustainable development. Kemudian, Stockholm Conference digantikan dengan adanya Rio Conference.Tergantikannya Stockholm Conference ini karena adanya tindakan pemboikotan yang dilakukan oleh negara komunis. Isi yang terkandung dalam Rio Conference, yaitu tujuan yang membatasi adanya perubahan iklim, melestarikan keanekaragaman hayati, dan mengurangi pengguguran.

Dalam perjalanannya green perspective melontarkan beberapa kritik mengenai isu lingkungan yang terjadi di dunia, yaitu mengatakan tidak adanya realistis, kurang bermanfaat banyak untuk mengatasi permasalahan lingkungan, langkah realisasi yang setengah-setengah, dan menuntut adanya perubahan dalam segala aspek dari tingkah laku sosial politik. Kritik-kritik tersebut dikemukakan karena green perspective memandang struktur politik, sosial, ekonomi, dan normatif dari politik internasional sebagai sumber utama dari krisis lingkungan dan oleh karenanya menetapkan bahwa struktur tersebut adalah objek yang perlu diuji dan lebih diutamakan (Burchill dan Linklater 2009, 337).Selain itu, terdapat asumsi yang menekankan pada kelakuan manusia modern sebagai penyebab dari kerusakan lingkungan dan menaruh perhatian terhadap kebiasaan manusia modern yang tidak lagi sejalan dengan dunia non-manusia.

Fokus ditekankan oleh green perspective ini terkait dengan respon sistem negara terhadap permasalahan lingkungan yang terjadi. Pemusatan tersebut kemudian memunculkan adanya rezim lingkungan internasional (Burchill dan Linklater 2009, 337). Terdapatnya isu lingkungan yang menyebar ke seleruh dunia menyebabkan munculnya ancaman baru yang dapat mengganggu atas keberlangsungan hidup manusia. Keberlangsungan hidup manusia yang tidak bisa dilepaskan begitu saja dari lingkungan. Keberlangsungan hidup manusia yang terganggu akan mempengaruhi dalam bidang non-militer. Pengaruh ini disebut dengan konsep Human Security. Konsep tersebut muncul karena diyakini dapat mempengaruhi satu sama lain. Mempengaruhi satu sama lain mengenai isu lingkungan agar lebih peduli terhadap isu lingkungan yang terjadi. Selain itu, tindakan peduli tersebut diharapkan mampu untuk menangani masalah yang terjadi di dalam bidang non-militer yang mengancam individu maupun negara.

Dalam green theory tidak terdapat aktor, walaupun negara dikatakan sebagai aktor, namun negara bukan aktor sepenuhnya karena negara tidak sepenuhnya mengakuinya. Namun, dapat dikatakan bahwa aktor yang cukup berperan di dalam green theory, yaitu NGO. Selain itu, terdapat korelasi politik dengan lingkungan. Alasan yang memunculkan adanya korelasi tersebut karena akar-akar permasalahan lingkungan yang muncul berasal dari masalah politik dan lingkungan. Korelasi tersebut dilaksanakan oleh green theory yang berusaha membawa pandangan mereka ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu organisasi-organisasi seperti WTO.Selain itu, terdapat alasan yang mengatakan bahwa munculnya isu lingkungan terparah dikarenakan dunia ketiga oleh negara maju. Kemudian, hal ini menyebabkan munculnya wacana mengenai pembayaran hutang yang dilakukan oleh dunia ketiga tersebut kepada negara maju.Namun, dalam pembayaran hutang tersebut tidak dibayarkan dengan alat tukar (uang), tetapi yang diinginkan ialah dengan adanya feedback untuk melindungi lingkungan. Program ini dikenal dengan sebutan Debt for Swapt, yang dirancang oleh orang-orang Eropa (Wardhani 2013).

Green perspective merupakan pandangan yang pusat perhatiannya hanya di dalam isu lingkungan. Hal ini bertentangan dengan perspektif tradisional yang hanya berfokus pada hal yang mainstrean yang tidak berkelanjutan. Selain iu, dengan adanya green perspective ini seharusnya dapat membantu dalam pelaksanaan tatanan lingkungan hidup yang lebih baik. Hal ini sudah menjadi bukti karena dalam manusia tidak bisa lepas dari yang dinamakan lingkungan. Lingkungan merupakan hal yang paling penting diantara permasalahan-permasalahan lain yang terjadi seperti politik dan ekonomi. Selain itu, permasalahan yang terjadi di dalam lingkungan juga diimbangi dengan adanya permasalahan dalam bidang lain agar terjadi kesinambungan dan menjadi seimbang antara satu dengan yang lain. 

 

Referensi :

Wardhani, Baiq L. S. 2013.Green Politics, materi disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional. Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 23 Mei 2013.

Burchill, Scott, dan Andrew Linklater. 2009. Teori-Teori Hubungan Internasional (terj. M. Sobirin, Theories of International Relations). Bandung: Nusamedia.

Jackson, Robert, dan Georg Sorensen. 2009. Pengantar Studi Hubungan Internasional (terj. Dadan Suryadipura, Introduction to International Relations). Jogjakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :