Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Post-Strukturalisme dan Post-Kolonialisme

Pembahasan post-strukturalisme menjelaskan bahwa perspektif ini menjabarkan untuk mengkritisi dan mendekonstruksi atas perspektif strukturalisme. Dalam hal ini post yang di definisikan dalam artian melewati dan mendekonstruksi. Sedangkan, strukturalisme dalam hal ini berkaitan dengan struktur yang terjadi di dalam masyarakat dan hal ini semua menjadi satu bagian yang nantinya akan menjelaskan bahwa hal tersebut nantinya akan membentuk perilaku masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat. Terdapat pernyataan yang  menegaskan bahwa strukturalisme yang ada tersebut lebih menekankan terhadap struktur yang terjadi di dalam masyarakat karena hal tersebut akan menentukan aktor yang nantinya akan terbentuk di dalam struktur masyarakat tersebut (strukturalisme). Namun, hal ini semua menjadi pembeda dan salah satu alasan bagi post-strukturalisme memberikan kritiknya karena dapat dilihat bahwa struktur yang ada ini menjadi salah satu bagian yang memberikan arti bahwa identitas merupakan alasan mengenai makna terhadap suatu objek (Campbell 2007).

Post-strukturalisme merupakan perspektif yang mengkritik terhadap pendekatan tradisional seperti realisme. Dalam pendekatan tersebut diketahui bahwa pendekatan tersebut termasuk dalam kategori mainstream dan lebih menekankan terhadap pemikiran yang bersifat metateori. Pemikiran metateori yang berkebalikan dengan post-strukturalisme tersebut menyebabkan perbedaan pandangan bahwa post-strukturalisme tidak menyukai terhadap pandangan yang bersifat objektif. Selain itu, dengan munculnya perspektif ini menjelaskan bahwa terdapat penolakan terhadap adanya pandangan tradisional karena perspektif post-strukturalisme ini memberikan kritik-kritik yang kemudian memberikan ide pemikiran perspektif yang berguna bagi mengurangi dominasi dari pandangan tradisional (Campbell 2007).

Dalam post-strukturalisme meyakini bahwa dalam hubungan internasional perspektif ini dipengaruhi, yaitu abstraksi, representasi, dan interpretasi (Campbell 2007). Selain itu, dalam post-strukturalisme memiliki kajian utama, yaitu identitas, subjektivitas dan hubungan power dengan knowledge. Namun, terdapat kelemahan yang dimiliki oleh post-strukturalisme, yaitu tidak adanya kejelasan yang pasti mengenai kontribusinya. Hal ini kemudian memberikan pergeseran yang nantinya akan menyebabkan adanya pemahaman yang berbeda dari masing-masing pihak. Selain itu, dalam post-strukturalisme tidak memiliki kejelasan yang pasti mengenai peran yang terikat diantara agen dan struktur. Alasan tersebut menjadikan kebingungan bagi para penstudi hubungan internasional dalam membahas masalah yang fundamental (Ashley 1996).    

Post-kolonialisme muncul pada tahun 1960an. Post-kolonialisme merupakan perspektif yang mengkritik terhadap adanya pandangan mainstream yang masih berpegang teguh dengan pandangan bersifat kolonialisme. Dalam hal ini dengan adanya kehadiran dari post-kolonialisme telah menjelaskan bahwa perspektif ini menentang adanya dampak yang dihasilkan dengan adanya kolonialisme. Kolonialisme tersebut dinilai telah merubah tatanan internasional yang dilingkupi (dipenuhi) dengan diskriminasi (Wardhani 2013). Kolonialisme yang dikatakan merubah tatanan internasional ini dapat dilihat dengan adanya pemfokusan dirinya terhadap power, negara, dan politik. Ketiga faktor tersebut dapat dilihat dari pandangan mainstream tradisional yang memang lebih menekankan dirinya terhadap ketiga faktor yang diutarakan tersebut.

Kemunculan post-kolonialisme selain karena adanya pertentangan terhadap kolonialisme, juga disebabkan karena adanya pertentangan terhadap imperialisme. Post-kolonialisme ini menjadi perspektif yang tidak menyukai pemikiran yang terlalu berpusat pada kebarat-baratan. Namun, dalam pemikiran yang menuju kebarat-baratan ini tidak serta merta menolak terhadap pemikiran barat dan tidak menggunakannya sama sekali. Dapat dilihat bahwa yang diinginkan dari post-kolonialisme ini adalah sebuah cara pandang atau pemikiran yang mampu memberikan kejelasan dan bisa memberikan penggabungan diantara dua pandangan, yaitu timur dan barat. Hal ini dapat dilihat jika dalam masalah isu hubungan internasional juga bisa dilihat menggunakan sisi Timur, yang dikenal dengan sebutan slavery. Slavery ini menjadi satu alasan bahwa dalam memandang pemikiran juga memiliki konstruksi yang tidak hanya melihat dalam sisi pemikiran Barat (Dugis 2013).

Pasca Cold War terdapat pembagian yang menggolongkan negara-negara di dunia, yaitu negara dunia pertama, negara dunia kedua, dan negara dunia ketiga. Negara dunia pertama dilihat berdasarkan negara-negara yang kaya dan telah maju, serta negara-negara Barat. Negara dunia kedua dapat dilihat ke dalam kategori negara-negara yang memiliki pemahaman komunis. Sedangkan, negara dunia ketiga dikategorikan seperti ini karena negara tersebut terletak di selatan dan merupakan kawasan bekas jajahan, serta negara yang terbelakang (Wardhani 2013). Hal ini semua menjadi patokan bahwa post-kolonialisme tidak bisa lepas dari Third-Worldism.

Third-Worldism yang memiliki hubungan erat dengan post-kolonialisme menjadi salah satu tindak bukti bahwa talah terjadi ketimpangan terhadap negara dunia ketiga. Namun, ketimpangan yang terjadi ini ditolah mentah-mentah oleh negara dunia pertama karena menurut negara dunia pertama adanya mereka telah memberikan pengajaran (transformasi) mengenai perkembangan teknologi yang semakin maju dan pengetahuan, serta ilmu dan modal. Hal ini semua tidak serta merta menjadi alasan bahwa negara dunia ketiga akan dapat menyetarakan posisinya dengan negara dunia pertama (Wardhani 2013).  

Post-structuralismedalam membahas masalah yang ada dalam hubungan internasional tidak berbeda jauh dengan pembahasan dengan post-kolonialisme. Post-kolonialisme merupakan perspektif yang menjelaskan bahwa terdapat pengkritikan yang menjadi turning point terhadap konstruksi kolonialisme. Kedua perspektif tersebut, yaitu post-strukturalisme dan post-kolonialisme dalam hal ini telah memberikan konstribusinya dalam pemberian ide. Namun, dapat dilihat bahwa kedua perspektif tersebut juga menekankan dalam hal pembuktiannya yang tidak serta merta secara langsung menyetujui akan kemapanannya, objektivitas, dan universalisme. Alasan yang diberikan tersebut membuat kedua perspektif tersebut mengulas kembali perspektif yang telah mapan dan mengkritiknya kembali untuk menemukan hal yang mereka inginkan dengan ide yang ditekankan menjadi pilihan dalam kedua perspektif tersebut (Dugis 2013).

 

Referensi :

Dugis, Vinsensio (2013) Constructivism, materi disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 30 Mei 2013.

Wardhani, Baiq LS, (2013) Constructivism, materi disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 30 Mei 2013.

Campbell, David, 2007. Poststructuralism, in; Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.)International Relations Theories, Oxford University Press, pp. 203-228.

Ashley, Richard, 1996. The achievements of post-structuralism, in; Steve Smith, Ken Booth & Marysia Zalewski (eds.) International Theory: Positivism and Beyond, Cambridge University Press, pp. 240-253.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :