Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Pilihan Strategis yang Berkaitan dengan Hubungan Power yang Asimetris

Globalisasi yang terjadi saat ini tidak bisa dielakkan bagi masyarakat yang sudah tegabung di dalamnya. Telah diketahui bahwa dalam hubungan internasional tidak terbatas kemungkinan untuk tidak mengalami atau berpengaruh terhadap adanya globalisasi tersebut. Globalisasi yang tidak melihat (mengenal) subjek yang dapat dipengaruhi akan dapat memberikan masukan yang nantinya akan memberikan penggambaran yang lebih luas dan mampu untuk berjalan lebih berkembang. Terdapat tantangan yang dibagi ke dalam tiga pendekatan dan dialami karena adanya pengaruh arus globalisasi, yaitu kosmopolitanisme, posmodernisme, dan komunitarianisme (Linklater 2001). Ketiga pendekatan tersebut memberikan tawaran yang nantinya akan membantu dalam era globalisasi sekarang ini.

Kosmopolitanisme memiliki fokus terhadap pencitraan terciptanya kesetaraan dalam dunia. Hal ini dimaksudkan dengan tidak adanya perbedaan yang terjadi di antara masyarakat. Perbedaan yang terjadi ini digambarkan seperti adanya peleburan di dalam masyarakat itu sendiri atau sering dikenal dengan masyarakat global. Posmodernisme lebih melihat ke dalam metodologi yang ada. Sedangkan, komunitarisme memiliki penjelasan yang lebih mengarah kepada nasionalisme (Linklater 2001). Dalam penjelasan ketiga pendekatan menegaskan bahwa ketiga pendekatan tersebut memiliki pembagian yang lebih memperlihatkan bahwa ketiga pendekatan tersebut memiliki fokus yang berbeda. Selain itu, ketiga pendekatan tersebut tidak memiliki kemampuan yang lebih mengarahkan dirinya kepada globalisasi yang terjadi dan berkembang pada era globalisasi (saat ini). Dapat dilihat bahwa ketiga pendekatan tersebut lebih memperlihatkan fokusnya ke dalam sifat yang lebih holistik.   

Kehadiran globalisasi dikatakan karena pengaruh dari hasil berakhirnya perang dingin (Clark 2001). Kehadiran dari fenomena globalisasi dapat ditandai dengan semakin memudarnya batasan-batasan yang ada. Memudarnya batasan-batasan ini terjadi pada masalah wilayah semakin abu-abu dalam mencari kejelasan yang ada. Selain itu, dengan memudarnya batas-batas yang ada menjadi semakin terintegrasinya jarak yang memisahkan diantara satu subjek dengan subjek yang lain.

Pemudaran yang terjadi ini juga memiliki pengaruh terhadap perkembangan yang nantinya terjadi pada negara-negara maju. Pernyataan tersebut dikuatkan karena dengan adanya kemunculan dari negara-negara kapitalisme yang semakin menjadi berkuasa saat globalisasi menyerang. Selain itu, dengan adanya kemunculan dari kapitalisme global menjadi pengaruh terhadap pelebaran kekuasaan yang dilakukan oleh negara maju dan berkeinginan untuk menjatuhkan negara dunia ketiga. Hal ini menjadi salah satu alasan bagaimana globalisasi yang ada ini menjadi penentu bagi perkembangan yang nantinya akan memberikan perkembangan bagi satu subjek tertentu (Clark 2001).

Seiring dengan semakin jelasnya alasan mengapa negara maju melakukan tindakan yang menginginkan kekuasaan dan hal ini diperkuat karena adanya penjelasan bahwa ingin melebarkan sayapnya dalam pengembangan segala hal yang kian mencakup dunia yang semakin global (Clark 2001). Selain itu, dengan adanya globalisasi telah memberikan warna tersendiri karena kemunculan dari perspektif-perspektif baru yang kian memberikan keragaman dalam dunia hubungan internasional. perspektif-perspektif yang ada ini kian memberikan solusi yang dapat membantu dalam penyelesaian yang tejadi di dalam tatanan sistem internasional. Hal ini tidak menutup kemungkinan untuk menghadapi tantangan-tantangan yang terjadi di dalam dunia internasional. Penyelesaian yang diberikan oleh perspektif-perspektif tersebut tidak serta merta dapat langsung digunakan, namun dalam hal ini persepektif-perspektif tersebut memberikan gambaran bahwa penyelesaian yang diberikan oleh masing-masing perspektif disesuaikan dengan argumentasinya yang sesuai dengan masa mereka alami.

Perspektif yang masuk dan mempengaruhi dalam dunia hubungan internasional dipengaruhi karena adanya perubahan dalam tatanan sistem internasional pada era globalisasi. Perubahan tatanan internasional tersebut dibagi ke dalam lima pembeda mengenai pergeseran objek studi, yaitu politik internasional, politik dunia, politik global, dan komunitas global (Dugis 2013). Pertama, dalam politik internasional, yang menjadi pemeran utama dalam politik internasional ialah aktor, lalu aktor tersebut memberikan hasil dalam menentukan interest dan interaksi. Selain itu, dalam fokusnya politik internasional masih berpegang pada pusat kajiannya, yaitu negara dan dianggap sebagai satu-satunya aktor yang ada dalam tatanan internasional. Kedua, politik dunia, yang ditandai dengan berakhirnya perang dingin. Pemain utama masih berkutat dengan aktor, namun dalam objek studi ini terlihat adanya kerjasama yang dilakukan oleh para aktor. Kerjasama yang melibatkan aktor tidak hanya berpusat kepada aktor (negara), namun juga berpengaruh terhadap non-state actor. Kejadian seperti ini dikenal dengan adanya sikap kooperatif, tetapi kejadian seperti ini tidak merubah posisi interaksi yang ada. Hal ini dippengaruhi karena aktor lebih diutamakan daripada interaksi dan interest. Selain itu, dengan adanya kejadian seperti ini menyebabkan kehadiran non-state actor. Kehadiran dari non-state actor merubah keadaan yang dulunya dalam menjalani kerjasama hanya berbasis negara-bangsa, namun kali ini lebih melebar dan memberikan dampak yang berbeda-beda bagi setiap pelaku.

Ketiga, politik global yang ditandai dengan adanya globalisasi produksi dan teknologi. Dalam fokusnya interaksi menjadi hal yang vital, sedangkan interest dan aktor sudah tidak memiliki peran yang signifikan dalam objek studi politik global. Dengan adanya pengaruh dari perkembangan globalisasi produksi dan teknologi menyebabkan terjadi pergeseran objek studi kembali, yaitu komunitas global. Komunitas global yang ada ini tidak dapat memberikan kejelasan mengenai perbedaan di antara global dan lokal. Selain itu, komunitas global masih memiliki fokusnya yang utama, yaitu interaksi yang nantinya akan menentukan interest dan aktor. Dengan adanya pengaruh pergeseran objek studi seperti ini menyebabkan teori-teori yang berkembang di dalam hubungan internasional tidak dapat digunakan kembali. Hal ini kemudian mengancam eksistensi dari perspektif-perspektif yang ada di dalam hubungan internasional sendiri. Namun, dengan adanya pernyataan seperti ini menjelaskan bahwa fenomena yang terjadi dalam era globalisasi ini tidak dapat menggunakan perspektif tradisional, tetapi membutuhkan adanya perspektif alternatif.

Pergeseran yang terjadi di dalam objek studi hubungan internasional menyebabkan semakin berkembang perspektif-perspektif yang ada saat ini. Dapat dilihat bahwa dalam era globalisasi perspektif-perspektif tradisional tidak dapat sepenuhnya dapat digunakan dan hal ini menjadi alasan utama mengenai munculnya perspektif alternatif. Namun, dengan kemunculan dari perspektif alternatif ini tidak sepenuhnya dapat memberikan jawaban yang diperlukan, melainkan dengan adanya perspektif alternatif ini menyebabkan adanya perluasan dalam ruang lingkup pembahasan yang ada. Pembahasan seperti ini menjelaskan bahwa setiap individu diinginkan untuk mengembang mengenai setiap teori yang ada, yang nantinya akan dapat membantu dalam menyelesaikan masalah.

 

Referensi :

Linklater, Andrew, 2001. Globalization and the transformation of political community, in; John Baylis & Steve Smith (eds.) The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford, pp. 617-633.

Dugis, Vinsensio (2013) Constructivism, materi disampaikan pada kuliah Teori Hubungan Internasional, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga. 30 Mei 2013.

Clark, Ian. 2001. Globalization and the post-cold war order, in John Baylis & Steve Smith (eds.) The Globalization of World Politics, 2nd edition, Oxford, pp. 614-648.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :