Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Dinamika Diplomasi dan Utusan Negara (Diplomat)

Diplomasi yang ada sekarang ini telah mengalami perkembangan. Hal ini dapat diketahui dengan adanya perkembangan dari diplomasi tradisional yang berkembang menjadi diplomasi modern. Diplomasi tradisional dikenal dengan diplomasi lama terjadi saat munculnya sistem negara bangsa hingga World War I. Pada masa diplomasi lama dapat dilihat oleh adanya sikap yang memunculkan praktek-praktek aneh seperti kongres yang diselipkan pelaksanaan sebuah dansa, yaitu waltz. Hal ini dilakukan karena memiliki alasan tersendiri dan ini merupakan power yang memang diperhitungkan untuk mendapatkan penilaian terhadap potensial atas tercapainya tujuan-tujuan yang nantinya akan memberi kecocokan diantara satu dengan yang lain (Roy 1995, 73).

Diplomasi lama dalam pelaksanaannya ini memang terlihat berbeda dengan diplomasi modern. Hal ini dapat dilihat dengan adanya sebuah tindakan dalam pencapaian tujuan ini menggunakan ancaman hingga menggunakan kekuatan yang sesungguhnya. Tindakan seperti ini dikenal dengan sebutan aturan quid pro quo (Roy 1995, 74). Dalam pelaksananaannya selama itu mungkin diplomasi lama dikenal memiliki banyak keburukan. Alasan ini dapat dilihat dengan adanya pendapat yang menyatakan bahwa diplomasi lama merupakan sebab utama perang pada masa lalu (Roy 1995, 91). Namun, dalam perjalanannya tidak selamanya diplomasi ini tidak memberikan kebaikan. Terdapat pendapat yang dikemukakan oleh Nicholson mengenai kebaikan yang diberikan oleh diplomasi lama, yaitu negara-negara besar mengontrol hubungan internasional dan dalam hal ini negara-negara besar tersebut memikul tanggung jawab bersama untuk memimpin negara-negara kecil dan memelihara perdamaian di antara mereka selama Perang Balkan terjadi, mencegah adanya suatu krisis yang terjadi Small Power berkembang menjadi krisis Great Power, terdapatnya dinas diplomatik profesional berbagai negara Eropa merupakan model identik yang telah dibentuk, dan negosiasi yang mulus harus berkesinambungan dan rahasia (Roy 1995, 96).

Keburukan yang dimiliki oleh diplomasi lama ini kemudian menyebabkan adanya transisi dari diplomasi lama menjadi diplomasi modern. Diplomasi modern lebih dikenal dengan sebutan diplomasi terbuka. Diplomasi terbuka ini telah melahirkan sudut-sudut baru dalam hubungan diplomatik. Selain itu, dengan hadirnya diplomasi baru ini telah melahirkan adanya organisasi-organisasi dunia seperti Liga Bangsa Bangsa dan berbagai organisasi regional lainnya (Roy 1995, 84).

Dalam diplomasi terbuka memiliki aspek utama, yaitu dengan adanya kepala negara yang sering melakukan kontak dengan wakil-wakilnya secara langsung dan antarwakil itu sendiri (Roy 1995, 84). Diplomasi terbuka ini terjadi setelah World War I. Dalam diplomasi terbuka terdapat gagasan yang menyebutkan bahwa diplomasi harus berlangsung secara terbuka. Dalam hal ini diplomasi terbuka dibagi ke dalam tiga gagasan, yaitu harus tidak ada perjanjian rahasia, negosiasi harus dilakukan secara terbuka, dan apabila suatu perjanjian sudah tercapai, tak boleh ada perubahan yang dilakukan untuk mengubah ketetapannya secara rahasia (Roy 1995, 79).

Terdapatnya diplomasi terbuka ini juga dipengaruhi oleh enam faktor, yaitu kebangkitan Rusia Sosialis, munculnya Amerika Serikat di politik dunia dan keikutsertaan negara-negara Amerika Latin dalam kehidupan internasional, kebangkitan Asia yang bertahap dan masuknya negara-negara Asia dalam pergaulan internasional, terdapatnya kebangkitan pendapat umum dalam transisi diplomasi lama menjadi diplomasi baru, perkembangan komunikasi, dan transformasi bertahap masyarakat internasional (Roy 1995, 81- 83). Dalam perjalanannya diplomasi ini tidak melepas kemungkinan tanpa adanya seorang utusan yang dipilihnya. Utusan ini dikenal dengan sebutan diplomat. Diplomat merupakan wakil negara yang diutus untuk mewakili negara ke negara lain dan bertugas sebagai mata dan telinga pemerintah yang ada di negara lain (Roy 1995, 179).

Diplomat yang dikirim ini juga memiliki tugas yang tidak mudah untuk dilepaskan begitu saja. Hal ini dapat dilihat melalui tugas yang harus dilaksanakan oleh seorang diplomat, yaitu memberikan informasi penting yang dibutuhkan kepada pemerintahnya dan membantu proses perumusan politik luar negeri (Roy 1995, 181). Namun, bukan hanya itu saja yang menjadi tugas diplomat karena terdapat enam tugas yang dibebankan kepada para diplomat, yaitu perwakilan, negosiasi, pelaporan, perlindungan, hubungan masyarakat, dan administrasi. Perwakilan merupakan fungsi diplomat sebagai wakil formal dan simbolis negaranya di negara lain. Negosiasi merupakan fungsi diplomat dalam melakukan tugasnya dalam menjalankan sikap tawar menawar diplomatik. Pelaporan merupakan fungsi diplomat dalam mengumpulkan informasi dan data yang benar berhubungan dengan berbagai aspek negara lain. Perlindungan merupakan fungsi diplomat dalam menjalankan tugasnya untuk melindungi kepentingan nasionalnya dan kepentingan warga negaranya sendiri di negara asing. Hubungan masyarakat merupakan fungsi diplomat yang terlibat dalam menciptakan dan menyebarluaskan kerjasama yang baik dan menguntungkan negaranya sendiri dan politiknya. Administrasi merupakan fungsi yang dibebankan kepada diplomat dalam menjalankan tugasnya karena misi diplomatik yang ada sekarang ini terdiri dari rombongan yang besar karena alasan itulah maka administrasi sekarang ini menjadi tanggung jawab diplomat itu sendiri (Roy 1995, 183-191).

Dalam memilih seorang diplomat ini tidak mudah karena untuk menjadi seorang diplomat harus memenuhi standar kualifikasi dan syarat yang ada. Salah satunya yang harus dimiliki seorang diplomat adalah kemampuan dalam bernegosiasi. Hal ini menjadi syarat utama karena dengan adanya kemampuan bernegosiasi akan dapat mempermudah dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Selain itu, terdapat hak dan keawajiban yang dimiliki oleh seorang diplomat. Hal ini dapat dijelaskan mengenai hak seorang diplomat yang berhak untuk mendapatkan hak kekebalan dan adanya sikap mengenai pejabat-pejabat, yaitu diplomat yang memiliki privilese diplomatik dalam pembebasan yuridiksi negara penerima (Roy 1995, 201). Sedangkan, kewajiban yang harus dijalankan oleh seorang diplomat, yaitu wakil negara yang dikirim ke negara lain (penerima), melindungi kepentingan negara dan warga negaranya di negara penerima, melakukan perundingan dengan negara penerima, dan memelihara ikatan yang terjalin di antara negaranya dengan negara penerima.

Penjelasan yang diuraikan diatas memberikan pemahaman yang menjelaskan bahwa diplomasi yang berkembang saat ini telah mengalami perkembangan. Dalam perkembangannya ini diplomasi yang ada ini terjadi sebuah dinamika yang dapat menjadi faktor pembeda dalam memahami diplomasi yang terjadi sebelumnya dan masa sekarang. Selain itu, dalam diplomasi tradisional dan modern tidak mengalami perubahan yang secara menyeluruh karena dapat dilihat bahwa prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan diplomasi tetap sama, namun perubahan yang terjadi ini dalam metode dan tekniknya. Terdapatnya diplomasi ini telah menyebabkan negara dalam mengutus seseorang dalam melakukan negosiasi. Namun, dalam pelaksanaannya ini tidak terlepas dari hak dan kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya.

 

Referensi :

Roy, S. L. 1995. Diplomasi. Edisi Pertama. Diterjemahkan oleh Harwanto dan Mirsawati. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :