Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

GLOBALISASI DALAM ASPEK BUDAYA

Pertarungan dalam globalisasi ini tidak hanya mencakup pada bagian yang kecil-kecil saja, melainkan globalisasi telah berhasil membuat pembedaan dalam sudut pandang dalam kebudayaan. Globalisasi yang melingkupi wilayah kultural ini telah merubah unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Globalisasi tersebut berhasil untuk menghidupkan dirinya untuk berada pada posisi jantung kultur modern. Hal ini juga telah merubah bagian dari praktek-praktek kultural berada pada posisi jantung globalisasi (John Tomlinson dalam Steger 2002, 53).

            Globalisasi yang terjadi ini tidak hanya menyediakan pada tatanan yang berbau teknologi. Namun, globalisasi lebih signifikan untuk membahas mengenai teori-teori yang menjelaskan mengenai praktek-praktek dan pengalaman dari pelaku non global (Moreiras 2004, 81). Terdapatnya penjelasan-penjelasan yang lebih terbuka ini akan dapat membantu dalam penyelesaian proses mereproduksi dari sistem global yang akan lebih mengarah pada pengetahuan yang berbasis disciplinary knowlegde. Disciplinary knowlegde tersebut dianggap sebagai mesin dari globalisasi (Moreiras 2004, 82).

            Dalam globalisasi yang lebih menyangkut pada budaya ini terlihat adanya pemudaran dari budaya-budaya yang ada. Dalam Moreiras (2004) dijelaskan bahwa budaya-budaya tersebut dapat dilihat dengan hadirnya sebuah praktek-pratek yang terkait dengan praktek feminisme, dan homoseks wanita maupun pria. Hal ini juga menyangkut dengan adanya survive dari kultur budaya yang lebih mementingkan dengan adanya komunitas dan solidaritas di dalamnya. Selain itu, pembahasan ini juga tidak melepas begitu saja karena dengan adanya praktek-praktek tersebut telah mengeluarkan adanya kesadaran atas teori yang rasial, pertentangan dalam uraian kolonialisme, dan ketentuan yang menyangkut uraian post colonialism. Globalisasi yang menyangkut pada kultural ini lebih menekankan pada sebuah ikatan yang liberalis. Ikatan ini dilihat dalam sebuah persatuan kaum intelektual, yaitu Amerika Latin khususnya. Dalam hal ini kaum tersebut melihat sebuah praktek yang menangani kasus ideologi yang menegakkan kursi sandarannya pada sebuah pemahaman dalam batasan untuk pemahaman politik liberal. Namun, kemudian dalam pembahasan yang menyangkut batasa-batasan tersebut menjelaskan pada batasan yang tidak mungkin ataupun tidak pernah mengandung suatu bagian dari teori yang menentang globalisasi (anti-global) (Moreiras 2004, 82).  

            Dalam Moreiras (2004) dijelaskan bahwa dalam globalisasi kultural ini juga menyangkut pembahasan mengenai imigran. Imigran ini merupakan permasalahan yang menyangkut pada space yang terjadi di antara pusat dan periphery, rumah dengan dunia luar, dan lain-lain. Pelaku imigran tersebut yang berpindah dari satu tempat lain yang kemudian memberikan pengaruh terhadap terbentuknya sebuah campuran budaya. Hal ini menghasilkan sebuah pemahaman mengenai budaya yang sebelumnya tidak diketahui menjadi berkembang dan tersebar, serta terbentuk sebuah penyatuan atau kolaborasi dari budaya satu dengan yang lainnya. Selain itu, imigran tersebut juga membuat sebuah pengakuan akan keterbukaannya mengenai awal mula yang mendasari imigran tersebut, yang dalam hal ini dibahas adalah Latinamerikanisme (Moreiras 2004, 84).

            Dalam kenyataan imigran tersebut juga tidak memiliki jaminan untuk tetap memunculkan adanya asimilasi. Hal ini dapat dilihat dalam sebuah pemikiran global yang kemungkinan akan terjadi kesukaran dalam melakukan sebuah pembeda pada homogenisasi yang terjadi di dalam imigran tersebut (Moreiras 2004, 84). Imigran yang digambarkan pada Latinamerikanisme digambarkan pada ciri yang melafalkan Latinamerikanisme memiliki keinginan untuk menarik pemikiran yang hanya terpusat pada kegelapan. Dalam kegelapan ini diumpamakan sebagai salah satu contoh mengenai peleburan budaya yang menjadi satu, namun dalam peleburan tersebut tidak mampu untuk menarik hati bagi imigran dalam menyatukan sebuah budaya satu dengan yang lain. Maka, dengan kata lain globalisasi menurut ciri dari bentuk imigran Latinamerika ini merupakan sebuah bentuk yang berhubungan kemampuan dari daya tarik sebuah kedaulatan yang dimiliki, namun bukan hanya bentukan dari pondasi melainkan sebuah perwujudan dari kekuatan. Selain itu, dalam Moreiras (2004) mengenal dengan adanya universal civilization. Dalam universal civilization disebutkan bahwa bergantung pada proyeksi masa lalu yang menjadi sebuah formasi atau bentukan nasionalnya. Perbedaan yang mengglobal ini kemudian mempercepat sebuah proses yang lebih mengarah pada global identity. Maka, Latinamerikanisme ini dikatakan menginginkan adanya sebuah representasi yang lebih mengarah pada kehadiran sebuah objek. Hal ini dibuktikan dengan adanya pengeklaiman dalam merebut sebuah bentukan asosiasi yang nantinya akan diwujudkan dengan dua cara, yaitu menuntut adanya sebuah representasi untuk menjelaskan yang lebih dalam mengenai Latinamerikanisme dan diharapkan mampu untuk menghasilkan sebuah produk yang nantinya akan membawa pada ke arah yang anti representasi.

            Dengan demikian, maka penulis menyatakan setuju dengan pendapat yang diutarakan oleh Moreiras bahwa dengan adanya globalisasi telah membawa pada dampak yang lebih spesifik lagi mengenai adanya pemudaran yang terjadi karena pengaruh globalisasi. Selain itu, dengan terjadinya globalisasi ini telah membawa kepada dampak yang lebih serius lagi, yaitu kesan peleburan pada sebuah kebudayaan semakin terlihat. Peleburan ini kemudian membuat adanya pengaruh dalam penyatuan dalam bentukan global identity. Bentukan ini kemudian menuju pada sebuah bentukan baru yang mengarah pada sebuah keterbukaan yang diharapkan akan terwujud di dalam lingkungannya. Namun, bentukan baru ini tidak memiliki garansi karena budaya yang terbentuk sebelumnya memudar atau tidak dapat muncul kembali. Maka, dengan kejadian ini diperlukan adanya sikap khusus untuk memunculkan budaya lama agar tidak terhapus karena munculnya globalisasi.

 

 

Referensi:

Moreiras, Alberto. 2004. “Global Fragments: a Second Latinamericanism”, dalam Frederic Jameson dan M. Miyoshi, ed., the Cultures of Globalization, Durham: Duke University Press, pp. 81-102

 Steger, Manfred B. 2002. “Five Central Claims of Globalism”, dalam Globalism: The New Market Ideology, Oxford: Rowman & Littlefield Publisher, Inc.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :