Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

GLOBALISASI DALAM ASPEK PERANG DAN KEAMANAN

            Dalam Winarno (2009) dijelaskan bahwa globalisasi telah menyebabkan terjadi state borderless. Datangnya globalisasi ini dianggap sebagai bentukan dari imperialisme baru. Pengaruh tersebut menyebabkan negara-negara kehilangan atas kontrolnya dalam mengatasi permasalahan yang berpengaruh terhadap negaranya sendiri. Globalisasi lebih terlihat nyata ketika menyerang bidang perekonomian. Hal ini menjadi penyebab dari terjadinya state borderless. Kemunculan dari state borderless, menurut Ohmae (1995), karena munculnya aktor-aktor nonteritorial yang menyebabkan pembahasan mengenai negara bangsa sudah tidak menjadi hal yang relevan lagi (Winarno 2009, 4).

            Globalisasi yang sedang dan sudah terjadi ini merupakan permasalahan yang menimbulkan kelemahan dalam keamanan nasional negara (Ripsman dan Paul 2005, 199). Lemahnya keamanan nasional negara tersebut tidak melepas kemungkinan dari pengaruh ketidakmampuan dalam menghadang dampak yang ditimbulkan dari kuatnya social global forces. Selain itu,  dengan terdapatnya kelemahan negara-negara tersebut kemudian membuat adanya pengkategorian yang menjadi sebuah acuan dalam memahami predikat negara tersebut yang berkaitan dengan keamanan strategis negara. Pengkategorian tersebut, yaitu major powers, states in stable religions, states in regions of enduring rivalries, dan weak and failed states (Ripsman dan Paul 2005, 199).

            Keamanan negara ini diperlukan oleh semua negara. Namun, dalam menjaga keamanan ini diperlukan adanya tindakan dengan tidak mengurangi kapasitas perhatian, misalnya saja dalam kasus interstate wars, military expenditures, meningkatnya aktor transnasional dan proliferation of nontraditional security (Ripsman dan Paul 2005, 199). Dengan tidak mengurangi kapasitas perhatian tersebut akan membantu dalam menjaga kemanan negara karena dengan semakin berkembangnya dunia ini telah mempengaruhi terhadap perubahan yang dialami dari sektor keamanan negara itu sendiri. Selain itu, perubahan yang dialami dalam permasalahan keamanan negara tersebut juga semakin menyebabkan perluasan kajian yang akan ditanggung dalam meminimalisir konflik yang mungkin akan terjadi, misalnya terorisme, isu-isu lingkungan, dan penjualan obat-obatan terlarang (Ripsman dan Paul 2005, 199).

            Dalam kasus fenomena-fenomena internasional ini telah menyebabkan adanya perbedaan pandangan dalam pengaruh kekuatan dan posisi yang berada di dalam sistem internasional (Ripsman dan Paul 2005, 203). Pembagian dalam hal-hal yang berpengaruh pada fenomena-fenomena tersebut berdasarkan perspektif realis. Selain itu, perspektif realis juga membagi kategori negara, yaitu major powers, states in cooperative regional subsystems, states in competitive regional subsystems, dan weak and failed states. Menurut perspektif realis, negara yang termasuk dalam kategori pertama, major powers dalam Ripsman dan Paul (2005)  merupakan negara yang mampu memimpin dan fleksibel karena dapat mengikuti arus globalisasi. Hal ini terjadi karena dipengaruhi dari sikapnya yang konsisten. Selain itu, major powers merupakan kategori negara yang mampu menunjukkan keeksistensian dirinya untuk menjadi tolok ukur dalam kekuatan militer dan keamanan.  Kategori major powers ini dipegang oleh Amerika karena predikat status quo-nya sebagai kekuatan hegemoni. Namun, terdapat negara lain, yaitu Rusia sebagai the declining great power dan China sebagai the rising great power. Predikat yang disandang oleh ketiga negara tersebut berhubungan erat dengan kemampuannya yang besar dalam kekuatan nasionalnya yang mempengaruhi dalam bidang militer dan keamanan.

                Kategori kedua, states in cooperative regional subsystems dalam Ripsman dan Paul (2005)  merupakan kategori yang dipredikatkan untuk negara yang termasuk dalam subsistem regional dan keamanan lingkungannya yang relatif stabil. Predikat ini biasanya akan dipegang oleh sebuah organisasi regional karena adanya keinginan dalam penyatuan untuk menstabilkan keadaan suatu kawasan regional yang ditekankan dengan bantuan militer, dengan adanya kesadaran bersama dan keinginan dalam melakukan hubungan kerjasama di antara negara kawasan. Organisasi regional tersebut misalnya ASEAN dan European Union.

            Kategori ketiga, states in competitive regional subsystems dalam Ripsman dan Paul (2005) merupakan predikat yang dipegang karena adanya persaingan yang terjadi di dalam sebuah kawasan. Persaingan tersebut mencakupi permasalahan yang berbau militer. Kekuatan militer dianggap sebagai kekuatan yang tak mampu untuk ditandingi, maka dengan alasan tersebut membuat negara-negara yang berada di kawasan persaingan ini memiliki pemahaman bahwa kekuatan militer harus menjadi fokus utama dalam peningkatan yang dilakukan oleh negaranya. Kawasan-kawasan yang termasuk dalam kategori ini seperti Asia Selatan dan Timur Tengah. Konflik yang terjadi di Asia Selatan ini diantara India dan Pakistan karena adanya konflik mengenai perebutan teritori. Sedangkan, konflik yang terjadi di Timur Tengah ini diantara Arab dan Israel mengenai konflik perebutan kekuasaan minyak.

            Sedangkan, kategori keempat, weak and failed states dalam Ripsman dan Paul (2005) merupakan kategori negara-negara yang masih dikatakan rendah dalam masalah keamanan dan ekonomi. Kawasan Afrika menjadi salah satu contoh yang menyandang predikat tersebut karena pemerintah kawasan tersebut masih tidak mampu untuk menciptakan kesejahteraan dan kurangnya perhatian dalam perlindungan keamanan bagi rakyatnya. Bukti kurangnya kesejahteraan dan kurangnya perhatian dari pemerintah negara-negara tersebut dapat dilihat dengan sangkut-pautnya predikat negara-negara yang berada di kawasan Afrika tersebut karena pengaruh atas keterjangkitan penyakit mematikan seperti HIV/AIDS.

            Penjelasan yang diutarakan Ripsman dan Paul (2005) pada artikelnya yang berjudul “Globalization and The National Security
 State: A Framework for Analysis
”, ini dapat memberikan kesimpulan bahwa kedua penulis ini menyatakan dengan adanya globalisasi telah membuat semakin maraknya perhatian khusus yang beralih menjadi kajian mengenai keamanan nasional. Maka, saya menegaskan bahwa hal ini mampu untuk menyangkut-pautkan mengenai terjadinya globalisasi ini telah mampu merubah pandangan dunia dalam permasalahan dengan keberadaan keamanan nasional yang perlu ditingkatkan. Selain itu, keamanan nasional sudah meluas kajiannya untuk semakin meningkatkan respon yang harus segera ditindaklanjuti dalam menjaga keamanan suatu wilayah negara karena keamanan negara ini berbeda antar satu dengan yang lainnya ini juga menjadi pengaruh bahwa keamanan negara perlu ada perhatian khusus dalam dunia yang semakin global.

 

 

 

 

 

 

Referensi:

Ripsman, Norrin M. Dan T. V. Paul. 2005. Globalization and The National Security
 State: A Framework for Analysis, dalam International Studies Review
. Oxford: Oxford University Press, hal.199-227.

Winarno, Budi. 2009. Pertarungan Negara VS Pasar.  [e-book] Yogyakarta: Media Pressindo. dalam http://books.google.co.id/books?id=KHm6MYODyeoC&pg=PA4&lpg=PA4&ots=e81R4Mqgwe&focus=viewport&dq=globalisasi+dan+state+borderless&hl=fr&output=html_text [diakses 22 Maret 2014]

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :