Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Instrumen Diplomasi

Diplomasi merupakan kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh dua pihak yang memiliki kepentingan yang ingin dicapai. Dalam pembagiannya, diplomasi dikategorikan ke dalam dua kategori, yaitu diplomasi tradisional dan diplomasi modern. Diplomasi tradisional dianggap sebagai diplomasi bilateral dan di dalamnya terdapat agen yang bertindak atas nama negara. Sedangkan, diplomasi modern merupakan diplomasi yang lebih memiliki tatanan yang lebih stabil dan lebih jelas dalam menunjukkan tujuannya dalam menjaga perdamaian multilateral. Selain itu, dalam diplomasi tradisional dan diplomasi modern juga memiliki karakteristik yang menjadi pembeda untuk keduanya, yaitu diplomasi tradisional lebih tertutup, elistis, dan lebih menjerumuskan masyarakat ke dalam peperangan, namun berbeda halnya dengan diplomasi modern yang memiliki karakteristik lebih terbuka dan transparan terrhadap masyarakat umum (Salamah 2011, 20-23).

            Dalam memahami definisi diplomasi ini menjadi penjelas tersendiri karena dapat diketahui bahwa diplomasi memiliki banyak arti. Namun, dalam memahaminya hal yang perlu dan penting untuk diketahui adalah unsur yang terkait dalam diplomasi. Dalam diplomasi terdapat unsur-unsur yang dapat menjelaskan diplomasi, yaitu unsur negosiasi, negosiasi yang dilakukan untuk kepentingan negara, tindakan-tindakan diplomatik yang dilakukan untuk menjaga dan memajukan kepentingan nasional, keterkaitan antara diplomasi dengan perang, diplomasi yang terdapat dalam suatu negara yang dihubungkan dengan tujuan politik luar negeri, diplomasi modern yang berhubungan dengan sistem negara, dan diplomasi yang tidak dapat dipisahkan dengan perwakilan negara (Roy 1995, 4-5).

            Definisi diplomasi yang beragam ini menjelaskan dan menghubungkan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam diplomasi sendiri. Tujuan diplomasi ini dapat dilihat pada pendapat yang dikemukakan oleh kaum Kautilya. Menurut Kautilya, terdapat empat tujuan diplomasi, yaitu perolehan, pemeliharaaan, penambahan dan pembagian yang adil, dan mencapai kebahagiaan. Namun, dapat diketahui bahwa tujuan diplomasi secara luas sebenarnya melingkupi bagian-bagian yang berhubungan mengenai politik, ekonomi, budaya, dan ideologi (Roy 1995, 6). Dalam pencapaian tujuan ini diperlukan adanya power untuk mencapainya karena tanpa adanya power tidak memungkinkan untuk dapat sepenuhnya mencapai tujuan-tujuan yang sudah ingin dicapai. Pencapaian yang paling utama dalam melakukan diplomasi adalah pengamanan yang dilakukan dalam kebebasan politik dan integritas teritorialnya.

            Terdapatnya hubungan yang terjalin di antara negara-negara dalam menjalin sebuah hubungan ini dapat membantu dalam mencapai tujuan tersebut. Hal ini dilakukan karena dengan melakukan tindakan semacam itu dapat membantu dalam mencegah negara-negara untuk bergabung dalam membuat aliansi yang bertujuan untuk melawan suatu negara. Maka, dengan adanya tujuan ini dapat membantu untuk kepentingan negara sendiri dan tindakan ini juga menunjukkan sikap politik dari diplomasi yang dianggap sebagai salah satu instrumen dalam mencapai tujuannya. Intrumen politik ini dilakukan dengan cara yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan secara damai. Hal ini kemudian diperjelas karena dengan menggunakan instrumen ini juga diperlukan adanya power dan sumberdaya yang seimbang dengan tujuan-tujuan politiknya (Roy 1995, 8-9).

            Berbeda halnya dengan pencapaian tujuan yang dilaksanakan dengan menggunakan instrumen ekonomi. Hal ini dilakukan dengan cara menjalankan terhadap adanya pasar yang dikenal dengan sebutan diplomasi komersial. Diplomasi komersial ini menjadi salah satu alasan untuk mencapai kebijaksanaan nasional pada suatu negara. Namun, dalam pelaksanaannya diplomasi komersial ini juga memberikan kerugian bagi negara yang merasakan terhadap tindakan yang dilakukan oleh negara-negara maju. Alasan ini menjadi salah satu alasan yang dapat menjelaskan bahwa negara-negara maju tersebut telah melakukan pengeksploitasian terhadap negara-negara yang lemah ekonominya dan terbelakang (Roy 1995, 10). Namun, dengan semakin berkembangnya zaman, negara-negara yang terlibat di dunia ini juga memiliki usaha untuk meningkatkan kepentingan dagang yang dilakukan dengan tujuan agar perekonomian di negaranya ini dapat stabil dan mapan.

            Dalam pelaksanaan diplomasi untuk mencapai tujuannya juga bisa dilakukan melalui kegiatan yang berhubungan dengan budaya. Hubungan ini dilakukan dengan cara adanya pertukaran budaya yang dilakukan oleh masing-masing pihak yang bertujuan untuk memperkenalkan dan memamerkan keagungan kebudayaan suatu negara. Selain itu, dengan adanya pertukaran ini juga memengaruhi untuk mengetahui pandangan satu sama lain (Roy 1995, 12). Hal ini juga merupakan salah satu alat diplomasi yang efektif dan penggunaan dengan jalan pengenalan kebudayaan ini merupakan salah satu bukti penggunaan soft power.

            Terdapatnya kebudayaan yang digunakan sebagai instrumen dalam mencapai suatu tujuan ini dapat dilihat dengan jalan yang menggunakan soft power. Namun, berbeda halnya dengan penggunaan instrumen yang berhubungan dengan hard power, yaitu menggunakan militer. Adanya militer dalam suatu negara merupakan salah satu bentuk yang menandai bahwa suatu negara dipengaruhi dengan kekuatan militer untuk mencapai kepentingan nasional. Kekuatan militer ini dipengaruhi dengan adanya kualitas dari angkatan bersenjata dan senjata yang dimiliki suatu negara. Selain itu, dengan tindakan yang mempergunakan militer ini juga mempengaruhi karena dalam penggunaannya terdapat siasat dan taktik untuk mencapai kepentingan nasional suatu negara (Morgenthau 2010, 151).

            Telah dikemukakan bahwa dalam diplomasi terdapat unsur-unsur yang terkandung di dalamnya. Selain itu, untuk mencapai kepentingan nasional menggunakan instrumen-instrumen yang ada. Namun, dalam penggunaan instrumen-instrumen tersebut bukan berarti dapat dilakukan secara bersamaan. Hal ini menjadi salah satu alasan bahwa dalam setiap mengambil tindakan harus disesuaikan dengan kondisi yang sedang terjadi karena hal ini akan mempengaruhi tindakan diplomasi suatu negara yang mempengaruhi kestabilan suatu negara. Instrumen-instrumen yang ada ini juga memiliki tujuan dan cara kerja tersendiri dalam mencapai keinginan diinginkan.

 

Referensi :

H.J. Morgenthau, Politics Among Nations : The Strunggle For Power and Peace , Alfred A. Knopt, 1978.

Roy, S. Lal. 1995. Diplomasi. Edisi pertama. Diterjemahkan oleh Harwanto dan Mirsawati. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Salamah, Lilik. 2011. Negosiasi dan Diplomasi. Surabaya: Cakra Studi Global Strategis.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :