Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Macam-Macam Pola/Bentuk Diplomasi

Memahami arti diplomasi ini dapat dilihat dengan cara membedakannya melalui bentuk atau pola dari diplomasi itu sendiri. Bentuk-bentuk dari diplomasi ini sangat beragam, diantaranya diplomasi bilateral, diplomasi multilateral, diplomasi asosiasi, dan diplomasi konferensi. Bentuk-bentuk diplomasi tersebut akan memberikan perbedaan yang tampak jelas dan memungkinkan agar lebih mudah untuk memahami dari arti diplomasi maupun bentuk diplomasi.

                   Pertama, diplomasi bilateral merupakan salah satu bentuk diplomasi lama dan dikenal dengan sebutan tradisional. Bentuk diplomasi ini sudah dipergunakan sejak zaman dahulu. Diplomasi ini dilakukan diantara dua pihak saja. Dalam melakukan diplomasi ini harus memiliki tindakan dalam memperhitungkan power (Roy 1995, 73-74). Pelaksanaan yang terlihat dalam diplomasi ini, yaitu dengan adanya keinginan dalam pencapaian tujuan. Keinginan untuk pencapaian tujuan tersebut juga dilakukan dengan adanya sikap yang konstan dari kedua belah pihak agar tujuan dari kedua negara tersebut juga mengalami atau mendekati kecocokan. Namun, dalam pelaksanaan diplomasi lama ini lebih terlihat adanya sebuah pencapaian tujuan yang lebih menggunakan ancaman karena adanya power yang dimiliki. Hal ini berbeda dengan diplomasi bilateral yang dilakukan pada masa sekarang, yaitu dengan adanya tindakan dalam memberikan bantuan kepada negara yang membutuhkan dan hal ini akan memberikan dampak dan pengaruh dengan adanya hubungan “timbal balik”. Hubungan “timbal balik” ini bisa dilihat dengan adanya sikap dari pembalasan kepada negara yang memberikan bantuan kepada negara yang membutuhkan bantuan dengan memberikan balasan bantuan yang dibutuhkan nantinya kepada negara yang membantu tersebut.

                   Kedua, diplomasi multilateral merupakan salah satu bentuk diplomasi terbuka. Dikenal dengan sebutan diplomasi modern. Dalam pelaksanaannya, diplomasi ini terlihat berbeda karena dilakukan diantara dua negara lebih. Selain itu, terdapat hal yang begitu tampak mengenai diplomasi tradisional dengan diplomasi modern ini, yaitu adanya keterbukaan yang terjadi dalam pelaksanaan diplomasi modern ini. Diplomasi ini lahir setelah Perang Dunia I. Diplomasi multilateral ini dapat dilihat dengan adanya kebangkitan dalam pelaksanaan diplomasi yang memunculkan adanya sebuah organisasi yang berdiri dan menjadi sebuah wadah dalam menjalankan bentuk diplomasi tersebut. Diplomasi multilateral bisa dikatakan sebagai bentuk diplomasi yang mengalami perkembangan dari bentuk diplomasi bilateral. Organisasi PBB merupakan salah satu bentuk wadah yang muncul karena adanya perkembangan dari diplomasi multilateral. Terdapatnya organisasi tersebut adalah untuk tempat dalam mengemukakan padangan mengenai beberapa masalah penting bagi kepentingan internasional (Roy 1995, 84).

                   Ketiga, diplomasi asosiasi merupakan bentuk diplomasi yang dilakukan dengan cara terbentuknya hubungan persahabatan diantara negara satu dengan yang lainnya. Diplomasi ini terbentuk karena adanya persahabatan, perserikatan, dan persekutuan. Dalam pembentukan diplomasi ini adalah salah satu upaya untuk mencapai kepentingan bersama. Selain itu, terdapatnya diplomasi ini dapat dilihat dengan adanya keinginan dari negara-negara yang bersatu dan memiliki fokus terhadap satu tujuan yang sama. Namun, dalam pelaksanaannya, bentuk diplomasi ini harus dilakukan secara rutin dan lebih terorganisir dan adanya dominasi dari kekuatan yang lebih kuat juga mempengaruhi dalam jalannya diplomasi ini. Hal ini bisa dilihat melalui adanya ASEAN yang merupakan salah satu bentuk organisasi yang menggunakan bentuk diplomasi asosiasi dan biasanya organisasi ini lebih mengacu kepada pelaksanaan dalam membangun kekuatan regional serta jika ada salah satu negara yang menginginkan adanya bantuan, maka bantuan akan datang dengan cepat.

                   Keempat, diplomasi konferensi merupakan bentuk diplomasi yang muncul awal abad 20. Bentuk diplomasi ini dapat dilihat dengan adanya Konferensi Hague tahun 1899 dan 1907 (Roy 1995, 142). Bentuk diplomasi ini lebih terlihat seakan menginginkan adanya keputusan cepat yang terjadi. Selain itu, diplomasi konferensi ini juga dikenal sebagai representasi new diplomacy yang menjadi salah satu harapan baru bagi dunia (White 2005, 391). Diplomasi konferensi ini memiliki beberapa tipe, yaitu diplomasi multilateral atau parlementer dan diplomasi publik (Roy 1995, 146-8).

                   Bentuk-bentuk diplomasi memiliki hal-hal yang mempengaruhinya, yaitu kekurangan dan kelebihan. Namun, dalam pelaksanaannya, diplomasi yang akan digunakan ini harus sesuai dengan kondisi yang saat itu terjadi. Selain itu, penggunaan dari diplomasi ini juga dilihat dari kebutuhan dalam  mewujudkan kepentingan yang ingin dicapai. Hal ini dapat dilihat bahwa bentuk diplomasi satu dengan yang lainnya itu berbeda dan harus sesuai dengan pelaksanaan yang sesuai untuk mencapai sebuah tujuan.  

Referensi :

Roy, S.L. 1995. Diplomasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

White, Brian. 2005. Diplomacy In J. Baylis and S. Smith (eds). The Globalization of World Politics, 3rd edition, Oxford University Press.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :