Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Negosiasi

Negosiasi merupakan salah satu cara dalam melakukan sebuah tindakan yang berjalan untuk mendapatkan solusi yang terbaik diantara dua pihak atau lebih. Dalam negosiasi diperlukan adanya sebuah permasalahan yang menjadi satu topik untuk mendapatkan penyelesaian. Sementara itu, dalam negosiasi juga mengandung unsur-unsur yang terkandung, yaitu dengan adanya pihak yang terlibat, konflik, interaksi, dan kesepakatan (mti.ugm.ac.id).

            Negosiasi yang ada saat ini tidak lepas kaitannya dengan perkembangan yang sedang terjadi saat ini, yaitu dengan adanya pengaruh dari globalisasi. Terjadinya globalisasi saat ini bukan hanya pada suatu proses komunikasi saja, melainkan lebih berkembang secara kompleks untuk mencapai sebuah kepentingan. Negosiasi dikatakan sebagai sebuah proses yang terjadi antara dua pihak atau lebih yang dilakukan dalam pertukaran barang atau jasa dan berupaya untuk menyepakati nilai tukarnya atau proses komunikasi yang digunakan untuk mengembangkan solusi terbaik dan menguntungkan bagi pihak-pihak yang terlibat (Salamah 2011, 56). Dalam hal ini negosiasi dibedakan ke dalam dua bentuk, yaitu negosiasi distributif dan negosiasi integratif.

            Negosiasi distributif merupakan negosiasi yang berupaya dalam menyelesaikan permasalahan untuk membagi sumber daya yang tiada duanya dan dalam negosiasi ini terjadi sebuah tindakan yang bersifat zero sum-game, yaitu terdapat satu pihak yang kalah dan satu pihak yang menang (Salamah 2011, 57).  Selain itu, dalam negosiasi distributif ini juga berkaitan dengan claming value. Hal ini kemudian membedakan negosiasi ke dalam dua bagian, yaitu sifat hubungan lose-win situation dan win-win situation. Terjadinya lose-win situation dikarenakan pengaruh dari sumber daya yang terbatas. Sedangkan, kondisi win-win situation terjadi karena pengaruh dari situasi yang integratif dan dalam kondisi ini semua pihak yang terlibat mendapatkan keinginannya masing-masing.

Dalam pencapaian dua hasil yang berbeda ini pengaruh dari taktik dan strategi yang digunakan juga mempengaruhi, yaitu adanya kondisi zero-sum merupakan strategi value claming. Hal ini merupakan kondisi untuk mempertegas nilai yang sudah ada. Sedangkan, terdapat non-zero sum merupakan taktik value creation. Dalam hal ini merupakan salah satu cara untuk menciptakan nilai (Salamah 2011, 58-59). Dalam negosiasi juga memiliki alasan yang identik dengan penawaran distributif, yaitu adanya pengaruh dari sikap yang harus diambil oleh negosiator karena menghadapi situasi yang distributif dalam menyelesaikan masalah yang ada, pemahaman yang harus dimiliki oleh negosiator baik untuk membaca dan menghadapi taktik lawan (pihak lain), mengambil posisi yang tepat saat terjadi pergeseran nilai dan tidak menimbulkan kelemahan, serta mempertegas power yang dimiliki. Selain itu, dalam negosiasi distributif ini aktor (pihak) yang terlibat harus memaksimalkan kemampuannya untuk mendapatkan keuntungan yang diinginkan (Griffiths & O’Callagan 2002).

Negosiasi integratif merupakan negosiasi yang berjalan dan berdasarkan pada asumsi dalam mencari suatu penyelesaian dan dalam negosiasi ini diciptakan penyelesaian dalam kondisi menang menang diantara pihak-pihak yang terlibat (Salamah 2011, 57). Dalam negosiasi integratif ini negosiator yang terlibat diharuskan untuk memahami kepentingan pihak lawan dan hal ini kemudian akan membawa keputusan yang menguntungkan kedua pihak, serta jalannya negosiasi ini akan mudah dan lancar. Selain itu, negosiasi integratif identik dengan hal-hal yang berkaitan dengan multi-issue, sharing, problem solving, dan bridge building.

Dalam hal multi-issue, dalam pelaksanaan negosiasi integratif dibahas tidak hanya satu isu saja, melainkan lebih. Sharing, negosiasi integratif juga terjadi kegiatan berbagi. Dalam kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi selengkapnya dari pihak lawan dan dalam kegiatan ini peran negosiator sangat diperlukan untuk menjalin hubungan baik dengan pihak lawan yang nantinya akan mendapatkan informasi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada dengan menguntungkan kedua belah pihak. Problem solving, dalam negosiasi integratif ini penyelesaian masalah yang berkaitan dalam penyelesaian konflik merupakan salah satu cara yang dipergunakan untuk mencapai kepentingan bersama (kedua belah pihak yang terlibat). Sedangkan, bridge building, dalam negosiasi integratif hubungan baik yang terjalin ini juga memerlukan adanya sebuah jembatan yang menghubungkannya. Jembatan ini berfungsi sebagai penyatuan dari kepentingan-kepentingan yang berbeda dari kedua belah pihak. Selain itu, terbentuknya jembatan ini juga memiliki fungsi lain, yaitu dengan maksud untuk mendapatkan hasil setelah terjadinya negosiasi dan hubungan yang berpengaruh untuk negosiasi ke depannya juga dapat mempengaruhi dengan adanya bridge building tersebut (Salamah 2011, 61-62).

Negosiasi juga tidak bisa lepas dari dunia internasional. Dalam dunia internasional proses negosiasi selalu dipergunakan untuk mencapai kepentingan dalam menyelesaikan masalah yang terjadi diantara pihak-pihak yang bersengketa. Selain itu, dengan negosiasi merupakan salah satu proses yang mudah dalam menyelesaikan konflik. Maka, dengan negosiasi dapat dipastikan bahwa pihak-pihak yang terlibat dipastikan dalam keadaan yang baik walaupun dalam proses negosiasi maupun sesudah negosiasi dilaksanakan.  

Terdapatnya negosiasi akan dapat membantu dalam menyelesaikan masalah yang ada. Pemahaman mengenai negosiasi adalah penting karena untuk pemahaman yang berhubungan dengan keterlibatan dua pihak atau lebih dalam menyelesaikan masalah. Dalam negosiasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu negosiasi distributif dan negosiasi integratif. Pelaksanaan kedua negosiasi ini dapat diketahui dalam perbedaan dari nilai yang tersedia di dalamnya, motivasi (cara) penyelesaiannya, kepentingan untuk penyelesaiannya, dan jangka waktu yang mempengaruhi. Selain itu, unsur-unsur yang terkandung dalam negosiasi, yaitu dengan adanya masalah atau topik yang di diperbincangkan, pihak yang terlibat, komunikasi yang terjalin dalam proses negosiasi tersebut, dan interaksi yang menimbulkan adanya kesepakatan.

 

 

Referensi :

Griffiths, Martin, dan O’Callagan, Terry. 2002. International Relation, The Key Concept. New York: Routledge.

n.n. t.t. ”Negosiasi” [online] dalam http://mti.ugm.ac.id/~budi/download/kombis/13-Negosiasi.ppt [diakses 10 November 2013]

Salamah, Lilik. 2011. Negosiasi dan Diplomasi. Surabaya: Cakra Studi Global Strategis.

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :