Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Tahapan Negosiasi: Tahap Perundingan

Dalam penjelasan mengenai tahapan negosiasi ini menyangkut juga permasalahan mengenai tahapan dalam perundingan. Dalam Sundjojo (t. t., 18-19) dijelaskan bahwa tahapan negosiasi dibagi ke dalam lima tahapan, yaitu preparation and planning, mendifinisikan ground rules, klarifikasi dan justifikasi, bargaining dan problem solving, dan closure and implementation. Sedangkan, terdapat pendapat lain berbeda mengenai tahapan negosiasi yang dikemukakan oleh Heron dan Vandenabeele (1998) menjelaskan bahwa tahapan negosiasi dibedakan ke dalam empat tahap, yaitu persiapan, diskusi, perundingan, dan penutup dan kesepakatan.

            Pada tahapan perundingan yang dijelaskan dalam Sundjojo (t. t.) berhubungan dengan klarifikasi dan justifikasi dan bargaining dan problem solving. Pada tahapan yang membahas mengenai klarifikasi dan justifikasi ini berhubungan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam negosiasi karena keterlibatan dari pihak-pihak tersebut harus jelas dan mengerti akan perlunya dari negosiasi yang dilaksanakan ini. Sedangkan, pembahasan mengenai bargaining dan problem solving menjelaskan inti dari proses negosiasi. Sedangkan, pada tahap lima mengenai closure and implementation menjelaskan dalam pencapaian kesepakatan ini diperlukan adanya perumusan dari kesepakatan tersebut baik itu seperti kontrak formal ataupun perjanjian resmi dari pelaksanaan negosiasi tersebut.

            Namun, pendapat berbeda dikemukakan oleh Heron dan Vandenabeele (1998) mengenai perundingan (tawar-menawar). Namun, dalam tahapan perundingan ini sebelumnya mengalami tahapan diskusi. Pada tahapan diskusi merupakan proses negosiasi ini dibuka dengan adanya pernyataan pembuka oleh kedua belah pihak. Pada tahapan diskusi dibagi ke dalam empat tahap, yaitu komunikasi, pertanyaan, analisis signal, dan penyajian argumentasi. Namun, dalam pelaksanaan diskusi ini tidak terjadi sebuah penawaran ataupun perundingan (Heron dan Vandenabeele 1998, 16). Kemudian, dilanjutkan dengan adanya tahapan perundingan. Pada tahapan perundingan (tawar-menawar) menjelaskan bahwa adanya pembentukan dalam pembuatan kompromi. Kompromi yang terjadi ini bukan sebuah penunjuk bahwa pihak kita merupakan kelemahan dari kita, namun kompromi merupakan suatu komitmen yang dibuat terhadap proses negosiasi (Heron dan Vandenabeele 1998, 20). Dengan adanya pembentukan dari sebuah perundingan ini kemudian dilanjutkan dengan adanya pembuatan dalam hal penutup dan kesepakatan. Penutup dan kesepakatan, yaitu mencari kesepakatan yang akan berujung pada sebuah penentuan dan hasil yang seoakat dan dapat diterima hasilnya, yaitu win-win. Tahapan ini sebenarnya dapat terlihat bahwa regulasi dan situasi dapat berubah karena dari sebelumnya terjadi negosiasi dan setelah terjadinya proses negosiasi situasi dari “kami” dan “mereka” berubah menjadi “kita” (Heron dan Vandenabeele 1998, 22).

            Pada tahapan negosiasi yang berhubungan dengan tahapan perundingan ini tidak dapat dibiarkan begitu saja. Hal ini berpengaruh karena dalam proses perundingan peran dari negosiator ini terlihat penting dalam pencapaian kesepakatan yang ingin dicapai. Peran ini harus memberikan sikap yang memang terlihat adanya keinginan dalam pencapaian kesepakatan bersama untuk mencapai kepentingan yang ingin diraih. Selain itu, juga tidak menjadi hal yang tidak mungkin juga dalam negosiasi ini tahapan-tahapan negosiasi memang harus ditekankan dalam urusan pencapaian kepentingan-kepentingan tersebut.

 

Referensi:

Heron, Robert dan Caroline Vandenabeele. 1998. Negosiasi Efektif: Sebuah Panduan Praktis (terj. Rulita Wijayaningdyah, Effective Negotiation: A Practical Guide). Indonesia: Friedrich-Ebert-Stiftung (FES).

Sundjojo, Daniel Doni. T. t. Modul Negosiasi. 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :