Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Imperialisme, Kolonialisme, dan Nasionalisme di Asia Tenggara

            Asia Tenggara merupakan kawasan yang pembagian wilayahnya dibentuk karena pengaruh dari letak yang membagi satu dengan yang lainnya dan berada dalam kawasan yang sama. Asia Tenggara menjadi kawasan yang strategis karena mampu (mengalami) peningkatan dalam pertumbuhan dalam satu dekade (indonesianvoices.com). Asia Tenggara mengalami kemajuan sejak terdapatnya jalur-jalur perdagangan yang mampu mempengaruhi dalam peningkatan ekonomi di kawasan tersebut. Dengan adanya kejadian ini mampu membuat Asia Tenggara menjadi daerah yang dapat memainkan jalur perdagangan yang mampu mempengaruhinya karena telah memperluas jalur perniagaan. Jalur perniagaan yang terdapat di dalam kawasan Asia Tenggara ini telah memberikan salah satu bukti terhadap eksistensinya di kancah dunia. Eksistensinya ini tidak terlepas dari adanya pengaruh yang ada karena terdapatnya sumber-sumber yang menguntungkan untuk dikawasan tersebut (Leirissa 2011, 3).

            Eksistensi dari Asia Tenggara ini tidak lepas dari usaha bangsa Eropa yang melakukan perjalanan untuk menyebarluaskan ideologi-ideologinya dalam mempengaruhi negara-negara yang berada di dalam kawasan tersebut. Namun, dengan maksud untuk menyebarluaskan ideologinya tersebut bangsa Eropa telah melihat adanya kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dari yang sebelumnya direncanakan, yaitu dengan melihat sumber-sumber daya yang dimiliki Asia Tenggara. Sumber-sumber tersebut telah memberikan pengaruh terhadap kemajuan yang dirasakan oleh Asia Tenggara sendiri (Leirissa 2011, 4). Namun, dengan terdapatnya pengerukan sumber-sumber yang terdapat di kawasan Asia Tenggara tersebut juga telah memberikan dampak yang tidak diinginkan awal mulanya, yaitu dengan terjadinya transisi menuju kapitalis. Hal ini dapat dilihat dengan adanya beberapa pengaruh yang telah memberikan cara untuk merubah sudut pandang mengenai ideologi percepatan niaga, monetisasi dalam berbagai transaksi, pertumbuhan kota, akumulasi modal, dan spesialisasi fungsi (Leirissa 2011, 4).

            Transisi kapitalis yang dibawa oleh Eropa khususnya, bangsa Portugis ini juga memiliki maksud lain, yaitu dengan terjadinya masa kolonialisme. Namun, kolonialisme yang terjadi ini telah mampu membawa Asia Tenggara kepada kemajuan yang telah dirasakannya. Kemajuan ini dilihat dengan senakin meningkatnya ekspor yang terjadi di Asia Tenggara (Leirissa 2011, 11). Ekspor produk yang dilakukan di kawasan Asia Tenggara ini salah satunya berpengaruh terhadap salah satu produk yang dihasilkannya, yaitu rempah-rempah. Produk tersebut telah memberikan pengaruh terhadap sikap persaingan dari negara-negara yang menginginkannya. Namun, dari tindakan yang dilakukan untuk mendapatkan hasil rempah-rempah yang banyak juga menyebabkan terjadinya eksploitasi alam yang semakin berlebihan, dan kemudian menyebabkan terjadinya pengurangan terhadap permintaan hasil rempah-rempah tersebut.

            Penurunan yang dirasakan oleh Asia Tenggara ini juga tidak lepas dari tindakan monopoli yang dilakukan oleh Eropa. Monopoli tersebut telah memberikan pengaruh terhadap terjadinya ketimpangan untuk pembagian hasil karena terlihat bahwa Eropa memiliki keuntungan yang lebih banyak daripada Asia Tenggara khususnya. Hal ini merupakan salah satu pengaruh terhadap pengurangan hasil timbal balik yang seharusnya dirasakan oleh Asia Tenggara. Pengaruh kolonialisme ini tidak hanya berkutat untuk mempengaruhi dalam bidang ekonomi (perniagaan) saja, melainkan teknologi juga. Kemajuan teknologi yang dirasakan, yaitu dalam bidang militer khususnya mengenai persenjataan (Leirissa 2011, 11). Kolonialisme yang terjadi di kawasan Asia Tenggara ini tidak selamanya dirasakan karena terdapat tindakan-tindakan ataupun upaya-upaya yang dilakukan untuk melawan kolonialisme yang terjadi di wilayah tersebut. Hal ini ditandai dengan adanya gerakan-gerakan nasionalisme untuk melawan kolonialisme tersebut. Selain itu, dapat diketahui bahwa dengan adanya kolonialisme yang menyerang Asia Tenggara telah membuat hubungan intra-kawasan dan antar kawasan semakin baik. Namun, menurut Abinales dan Amoroso (2005) dan Christie (1995) dalam (Khudi dan Iqra 2013, 207-208) telah diketahui bahwa hubungan yang baik ini bukan karena adanya kolonialisme, melainkan diantara negara-negara tersebut sebelum terjadinya kolonialisme telah memiliki ikatan historis dalam masalah komunikasi pada intra-kawasan dan antar kawasan.

            Dari penjelasan yang telah diuraikan, maka Asia Tenggara sebenarnya merupakan wilayah yang mampu memberikan dampak baik untuk Eropa. Hal ini dibuktikan dengan adanya Eropa yang mendapat keuntungan lebih karena telah memperoleh hasil yang diinginkan. Strategisnya wilayah Asia Tenggara juga memiliki pengaruh terhadap banyaknya sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Namun, tindakan eksploitasi dan pemerasan dari pihak Eropa telah memberikan dampak yang buruk, yaitu kesengsaraan yang dirasakan oleh negara-negara di Asia Tenggara.       

 

 

Referensi:

Halim, Hilman. 2010. Potensi Strategis Hubungan China-ASEAN [online] dalam http://indonesianvoices.com/index.php/images/stories/minifp/images/index.php?option=com_content&view=article&id=159:potensi-hubungan-china-asean&catid=43:isu-asean&Itemid=62 [diakses 8 Maret 2014].  

Khudi, Achmad Firas dan Iqbal Anugerah. 2013. Kajian Asia Tenggara: Antara Narasi, Teori, dan Emansipasi [online] dalam http://www.academia.edu/6229130/Kajian_Asia_Tenggara_Antara_Narasi_Teori_dan_Emansipasi [diakses 8 Maret 2014].

Leirissa, Richard Z. 2011. “Peradaban dan Kapitalisme di Asia Tenggara”, dalam Anthony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara: Sebuah Pemetaan, terj. Sori Siregar dkk (eds.), Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia.

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :