Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

MALAYSIA

Malaysia merupakan salah satu bagian dari ASEAN ini memiliki sejarah panjang. Sebelumnya pedagang China dan India telah berhasil masuk ke dalam kawasan Malaysia untuk melakukan pertukaran dagang dan menyebarkan agama. Selain itu, pedagang Arab juga datang menduduki sementara wilayah Malaysia dengan membawa prinsip-prinsipnya untuk menyebarkan agama Islam. Namun, tidak luput juga dari kehadiran Spanyol yang datang ke wilayah tersebut untuk mempengaruhi sistem perpolitikan yang terdapat di Malaysia (www.geographia.com). Selain itu, Malaysia juga memiliki kebudayaan yang beragam. Kebudayaan tersebut seperti musik dan tari-tarian. Tradisional musik yang dimiliki Malaysia ini tidak jauh berbeda dengan gamelan. Litting, Giant Drum, dan Rebana Ubi merupakan musik khas yang dimiliki oleh Malaysia. Penggunaan alat musik tersebut digunakan sebagai alat upacara dan Giant Drum telah menjadi salah satu ajang untuk pelaksanaan festival yang dilaksanakan di Malaysia, yaitu di Kelantan pada bulan Mei atau Juni. Budaya tari-tarian yang dimiliki Malaysia salah satunya juga mendapat pengaruh dari salah satu bangsa yang pernah mendiami Malaysia, yaitu Portugis, yang dikenal dengan Joget. Selain itu, terdapat tarian yang merupakan ciri dari budaya Malaysia seperti tari Silat, tari Candle, dan Datun Julud (www.geographia.com).   

Malaysia merupakan wilayah yang menjadi salah satu bekas jajahan Inggris. Keberadaan Malaysia ini telah mencengangkan bagi negara lain, khususnya negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara. Malaysia merupakan negara yang dahulunya sebagai produsen bahan mentah pada tahun 1970, namun sekarang telah berhasil merubah dirinya menjadi multi-sector economy (www.cia.gov). Sebelumnya, kegiatan pasar Malaysia berada dibawah faktor produksinya yang mengacu pada hasil produksi, yaitu timah dan karet (Yusoff et al. 2000, 1). Dengan adanya faktor produksi tersebut telah mampu menunjang kehidupan Malaysia tersebut untuk membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan hasil pertumbuhan negaranya. Hasil produksi yang dihasilkan oleh Malaysia ini lebih mengacu pada pelaksanaan program ekspornya yang lebih ditingkatkan. Namun, dalam pelaksanaan ekspor tersebut telah mengalami transisi fokusnya pada pertanian kemudian fokusnya berubah haluan menjadi industri. Perubahan ini merupakan salah satu bukti bahwa dengan perubahan fokus tersebut Malaysia berupaya untuk mengurangi sektor ketergantungannya pada kegiatan ekspor yang selama ini dilakukannya untuk mendapatkan pendapatan bagi negaranya (www.cia.gov).

            Pelaksanaan perubahan haluan yang dilakukan oleh Malaysia ini merupakan upaya untuk melaksanakan pembangunan. Pembangunan yang dilaksanakan oleh Malaysia ini dapat dilihat dengan adanya pelaksanaan dari program pembangunan lima tahun, yang disebut dengan Malaysia Plan. Pelaksanaan dari Malaysia Plan menjadi salah satu upaya yang dilakukan Malaysia untuk menekankan growth with equity dalam konteks multi-racial society-nya. Pelaksanaan dari Malaysia Plan ini diikuti dengan adanya dua kebijakan yang bertujuan untuk memberantas kemiskinan, yaitu The New Economic Policy (1971-1990) dan The National Development Policy (1991-2000). Dua kebijakan ini juga memiliki cara dalam memberantas kemiskinan tersebut, yaitu dengan mengadakan pelatihan dan peningkatan dari sumber daya untuk meningkatkan standar hidup masyarakatnya  (Yusoff et al. 2000, 1-2).

            Dalam pelaksanaan pertumbuhan yang dilaksanakan oleh Malaysia ini tidak bisa lepas dari faktor terjadinya proses globalisasi. Keberadaan globalisasi telah mampu membawa Malaysia dalam memperluas perdagangannya dan masuknya investasi asing ke dalam wilayah kesatuan negaranya. Pengaruh globalisasi ini telah membawa perekonomian Malaysia lebih terintegrasi. Hal ini dapat dilihat dengan semakin terintegrasi dengan ekonomi dunia yang dibuktikan dengan kenaikan sebanyak 75% pada pelaksanaan kegiatan impor dan ekspor yang berkaitan dengan Gross National Product-nya (Yusoff et al. 2000, 3). Pertumbuhan ekonomi yang dirasakan Malaysia tersebut tidak terlepas dari adanya kegiatan ekonominya yang masih berorientasi dengan pasar terbuka (Yusoff et al. 2000, 16). Selain itu, dengan orientasi yang dilakukan oleh Malaysia tersebut telah mampu untuk membawanya pada posisi ekonomi yang kuat sekitar tahun 1960an hingga 1970an. Namun, timbal balik yang dirasakan Malaysia tersebut juga tidak dapat dipisahkan dengan hadirnya mitra dagang utamanya bersama Amerika dan Jepang.

            Pelaksanaan perdagangan terbuka yang dilakukan Malaysia tersebut tidak bisa dipungkiri untuk terpengaruh terhadap perkembangan dari perdagangan yang semakin proteksionisme dari negara-negara industri lainnya yang semakin menjadi pesaing bagi Malaysia sendiri (Osman Rani 1987 dalam Yusoff et al. 2000, 19). Persaingan yang terjadi ini akan berpengaruh terhadap terjadinya sebuah perlambatan dari faktor pertumbuhan yang akan dirasakan oleh Malaysia. Namun, dalam dinamika pasang surutnya ekonomi Malaysia tersebut, pemerintah Malaysia juga masih berupaya dalam mendorong para eksportir untuk semakin meningkatkan persaingannya di dunia luar, terlebih lagi untuk mempersiapkan dirinya dalam pelaksanaan yang sebentar lagi akan dirasakan, yaitu ASEAN Free Trade Agreement (Yusoff et al. 2000, 21).

Dalam menjaga keamanan di dalam kawasan Malaysia tersebut telah memiliki berbagai upaya, yaitu dengan menjaga keamanan sistemnya yang berhubungan langsung untuk dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengembangkan dan mempertahankan stabilitas politik, kemajuan perekonomian, dan kemajuan industri (Cipto 2010, 124). Selain itu, sebelumnya telah dijelaskan bahwa terdapat upaya yang dilakukan Malaysia dalam menjaga pertumbuhan ekonominya ini dipengaruhi oleh adanya Malaysia Plan, namun terdapatnya National Development Policy telah memberikan pengaruh terhadap usaha Malaysia dalam mendorong perekonomiannya untuk lebih bersaing dengan negara-negara lainnya (Cipto 2010, 125).

            Menurut Nathan, dijelaskan bahwa konsepsi Malaysia dalam membahas keamanan baik regional maupun internasional ini lebih menekankan pada isu-isu utama mengenai praktek keamanan nasional Malaysia seperti komunisme, konstitusi, Melayu Islam, Singapura, dan visi 2020. Namun, dalam isu-isu tersebut lebih mengutamakan dalam membendung masalah komunisme yang terjadi di Malaysia. Hal ini menjadi sebuah ancaman karena telah menimbulkan tindak kerusuhan dalam pengambilan keputusan yang terjadi di Malaysia oleh etnis Melayu (Cipto 2010, 121). Selain itu, pengaruh yang dirasakan Malaysia dengan keberadaan dari negara-negara besar seperti Amerika juga membuat dampak yang menjadikan Malaysia seakan terlena karena keberadaan negara tersebut. Hal ini dapat dilihat dengan kepergian Amerika dari Vietnam, seakan menyadarkan Malaysia bahwa negara tersebut harus lebih mementingkan keamanan regionalnya dalam menghadapi ancaman internal (Cipto 2010, 127). Maka, dengan kesadaran yang dirasakan Malaysia tersebut kemudian membuat Malaysia untuk memutuskan bergabung dengan ASEAN. Bergabung dengan ASEAN juga merupakan suatu tujuan dari Malaysia sendiri yang menjadi salah satu tonggak utama untuk menghindari penggunaan kekerasan dan mengedepankan konsultasi dalam mencari solusi untuk mengatasi konflik yang terjadi di antara negara anggota (Cipto 2010, 128).

            Letak Malaysia yang sangat dekat dengan Indonesia ini tidak melepas kemungkinan untuk tidak terjadi pergejolakan di antara kedua negara tersebut. Dalam Cipto (2010) dijelaskan bahwa terjadi pergejolakan antara kedua negara tersebut terkait kasus Sipadan dan Ligitan. Kasus ini telah memberikan efek yang memakan waktu cukup lama, yaitu sekitar tiga puluh tahun. Kasus ini telah sampai terbawa ke International Court of Justice. Namun, dengan terbawanya kasus ini hingga ke Mahkamah Internasional telah memutuskan bahwa Sipadan dan Ligitan berada di tangan Malaysia. Hal ini telah membuat Indonesia sadar karena setelah kasus ini Malaysia menuai aksinya kembali pada kasus Ambalat yang ingin direbutnya dari Indonesia.

            Penjelasan mengenai Malaysia tersebut telah memberikan pemahaman mengenai cara yang dilakukan untuk mempertahankan pertumbuhannya. Namun, dengan cara tersebut juga tidak meminimalisir kemungkinan akan terjadinya sebuah kemerosotan yang terjadi. Selain itu, Malaysia yang letaknya tidak jauh dari Indonesia juga menjadi salah satu negara yang kapasitasnya bisa dikatakan sering untuk mengalami konflik antar wilayah mengenai kasus perebutan suatu daerah.

           

Referensi:

Cipto, Bambang. 2010. Hubungan Internasional di Asia Tenggara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Central Intelligence Agency. T. t. “The World Factbook: East & Southeast Asia: Malaysia” [online] dalam https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/my.html [diakses 21 Maret 2014]

KALEIDECULTURE. T. t. “Music and Dance” [online] dalam http://www.geographia.com/malaysia/cultures.html [diakses 21 Maret 2014]

Yusoff, Mohammed B., et al. 2000. Globalisation, Economic Policy, and Equity: The Case of Malaysia.  

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :