Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

US Interests and Strategy in Post Cold War East Asia

Dikenal dalam perjalanannya, Amerika Serikat dan Uni Soviet yang merupakan pelaku-pelaku dalam terjadinya Perang Dingin ini terlihat seakan ingin melaksanakan aksinya, yaitu dengan menyebarkan ideologi-ideologi ke negara-negara lain. Penyebaran ideologi yang dilakukan kedua pihak ini juga menyebabkan kejadian dengan semakin meningkatnya persaingan, namun bukan hanya itu saja, melainkan persaingan di antara kedua hegemoni tersebut juga menyebabkan ekonomi ataupun teknologi yang ada di dunia ini semakin berkembang. Berhentinya Perang Dingin tidak diketahui kapan tepatnya, namun dalam hal ini Amerika Serikat dikatakan sebagai pemenang daru Perang Dingin tersebut. Kemenangan dari Amerika Serikat ini bisa dilihat karena pihak Uni Soviet yang kalah. Kekalahan Uni Soviet ini ditandai dengan adanya perpecahan dalam kesatuan Uni Soviet itu sendiri, yaitu menjadi beberapa pecahan negara-negara.

            Persaingan yang ditandai dengan penyebaran ideologi ini dilaksanakan oleh kedua belah pihak, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet (Dosch 2004, 18). Konflik penyebaran ideologi dua negara ini bisa dilihat dengan adanya kedua pihak, yaitu pihak Uni Soviet yang berusaha untuk menyebarkan ideologinya di kawasan Asia Timur, namun pihak Amerika juga tidak mau kalah saing. Sikap yang dilaksanakan oleh Amerika Serikat ini bisa dilihat dengan adanya penyebaran ideologinya ke kawasan Asia  Timur yang seakan-akan menjadi salah satu sikap perlawanan terhadap Uni Soviet. Menurut Marvin Ou dalam (Dosch 2004, 17) disebutkan bahwa pihak Amerika Serikat tidak menginginkan masuknya ideologi dari Uni Soviet dan ini dibuktikan dengan sikap Amerika Serikat dengan membuka jalur udara dan laut dengan maksud untuk menjaga keamanan akses umum yang kemudian dapat menciptakan keamanan dan stabilitas dari perdagangan. Selain itu, pembukaan jalur ini juga menyebutkan bahwa Asia Timur akan menjadi pengganti fokus dalam kebijakan luar negeri Amerika yang tadinya lebih kepada Eropa dan sekarang mengacu pada Asia Timur. Hal ini dilakukan karena menurutnya, Asia Timur mampu untuk meningkatkan daya saing dan kawasan Asia Timur juga memberikan keuntungan tersendiri bagi Amerika Serikat. Selain itu, dapat dilihat bahwa kawasan Asia Timur ini memiliki sumber daya alam yang berlimpah dan sumber daya manusia yang berkualitas, serta memiliki produktivitas yang tinggi.

            Amerika Serikat dalam mempengaruhi kawasan Asia Timur ini bisa dilihat dalam permasalahan politiknya, yaitu dengan adanya permasalahan hingga sekarang yang masih merayapi Korea Utara dan Korea Selatan. Hal ini dilihat karena adanya pengaruh dari ikut campurnya dua negara, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam permasalahan kedua negara tersebut. Kedua negara tersebut masih mengalami ketegangan yang tidak ada habisnya. Selain itu, karena pengaruh dari kedua hal ini menyebabkan masalah perpolitikan juga menjadi pengaruh dari peran serta negara hegemon. Selain itu, terdapatnya nuklir yang dimiliki oleh Korea Utara karena adanya rasa perlawanan yang dibentuk dari permasalahan yang tak kunjung selesai ini kemudian membuat Amerika Serikat seakan merasa tersaingi. Namun, karena adanya rasa tanggung jawab dari Amerika Serikat sendiri akibat dari tindakan yang dilakukannya tersebut Amerika Serikat juga seakan-akan merayu Korea Utara agar tidak melancarkan serangannya dengan menggunakan nuklir yang digunakannya. Namun, tidak lepasnya pengaruh nuklir yang diisukan akan dilepaskan oleh pihak Korea Utara. Dalam Calder dan Ye (2010) dijelaskan bahwa terjadinya tindakan berani Korea Utara tersebut memiliki penyebab yang mempengaruhinya, yaitu karena adanya penguatan dalam kemiliteran khususnya udara. Penguatan daerah militer tersebut berada di Okinawa, Jepang. Pangkalan militer ini menjadi salah satu penyebab terhadap terjadinya dampak lingkungan yang berimbas kepada masyarakat yang tinggal di daerah Okinawa tersebut. Hal ini bisa dilihat dari keluhannya, yaitu dengan semakin rawannya kecelakaan, peningkatan kriminalitas, dan tekanan sosial (Malek 2011, 2). Dengan terdapatnya pendirian kemiliteran di Jepang tersebut menjadi sebuah bukti bahwa telah terjadi pembentukan aliansi yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat dengan Jepang.

            Ketertarikan yang dirasakan pihak hegemon khususnya Amerika Serikat karena letak strategis yang dimiliki oleh Asia Timur. Kestrategisan ini menjadi salah satu pemikat karena diyakini bahwa Asia Timur menjadi kawasan negara yang mampu menopang dalam permasalahan kekuatan ekonomi, tempat penyebaran paham-paham ideologi Amerika Serikat, dan mampu menjaga stabilitas dari keamanan di kawasan Asia Timur maupun Amerika Serikat. Kawasan Asia Timur contohnya saja China, telah berhasil mewujudkan persaingan dalam hal perkonomian. Hal ini dapat dilihat dengan adanya sikap China berupaya keras untuk melakukan tindakan agar dapat menyebarluaskan hasil industrinya. Namun, berkembangnya China kemudian memberikan ide untuk Amerika Serikat dalam menjalankan kerjasama. Hal ini dapat dilihat kerjasama dalam bidang teknologi, yaitu China telah berhasil melakukan pembelian masal saham industri yang dilakukan oleh pengusaha-pengusaha China contohnya IBM, yang merupakan salah satu produk Amerika Serikat (indonesianvoices.com).

            Kesimpulan yang di dapat, yaitu dengan adanya sikap dari keinginan untuk menjadi yang terunggul ini bisa menyebabkan terjadinya kerusakan dalam segala bidang. Kerusakan tersebut juga berimbas kepada sikap negara satu dengan yang lainnya yang sebenarnya awalnya harmonis, namun karena adanya sebuah kerjasama atau mungkin paksaan untuk meningkatkan kerjasama di antara yang lain mampu menyebabkan terjadinya kesalahpahaman dan perselisihan seperti Korea Utara dan Jepang. Korea Utara yang memiliki nuklir tersebut karena merasa terganggu dengan adanya pemindahan pangkalan militer Amerika Serikat yang dipindah ke Okinawa, kemudian memberi tekanan kepada pihak Jepang. Dalam hal ini pihak Jepang tidak mengingikan adanya permusuhan diantara keduanya karena Korea Utara sudah tidak main-main kembali. Hal ini dapat dilihat dengan adanya tindakan nekat akan menyebabkan terjadinya pengganggu keamanan wilayah Asia Timur.

 

Referensi:

Calder, K & Ye, Min. 2010. “The Making of North East Asia.” Stanford: Stanford University Press. Ch. 10, pp. 225-250.

Dosch, Jorn. 2004. “The United States in the Asia Pacific” in Michael K Connors, Remy

      Davidson, Jorn Dosch (eds), The New Global Politics of the Asia-Pacific

Halim, Hilman. 2010. Potensi Strategis Hubungan China-ASEAN [online] dalam http://indonesianvoices.com/index.php/images/stories/minifp/images/index.php?option=com_content&view=article&id=159:potensi-hubungan-china-asean&catid=43:isu-asean&Itemid=62 [diakses 8 Maret 2014]. 

Malek, Fransiskus Carles. 2011. “Mundurnya Yukio Hatoyama Sebagai Perdana Menteri Jepang” [online] dalam http://repository.upnyk.ac.id/1490/1/resume_MUNDURNYA_YUKIO_HATOYAMA_SEBAGAI_PERDANA_MENTERI_JEPA.pdf. [diakses 8 Maret 2014]

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :