Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Ekonomi Asia Timur

Newly Industrializing Countries merupakan sebutan bagi negara-negara yang mampu dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi di negaranya. Newly Industrializing Countries ini dianggap sebagai macan dalam dunia ekonomi karena kecepatannya yang mampu untuk meningkatkan rata-rata ekonomi di negaranya. Negara-negara di Asia Timur yang termasuk dalam kategori Newly Industrializing Countries seperti Korea Selatan, Taiwan dan Hongkong (geographypods.com t. t.).  Perkembangan ekonomi yang dirasa sangat cepat terjadi di kawasan Asia Timur ini dibuktikan dengan adanya kemampuan dari daya produksinya dalam menghasilkan produk manufaktur (Krugman 1983 dalam Soekro et al. 2008, 343). Selain itu, kemampuannya dalam mengembangkan produksi industrial juga salah satu dampak dari peningkatan yang berhasil untuk diciptakan.

            Perkembangan ekonomi di Asia Timur yang sangat cepat ini dikatakan karena adanya pengaruh dari konfusianisme yang terdapat di kawasan tersebut. Konfusianisme ini dikatakan mampu untuk menaikkan standar dari perekonomian karena dianggap kondusif untuk menimbulkan adanya pembangunan ekonomi yang modern. Konfusianisme yang terdapat di Asia Timur ini dianggap berbeda dengan kapitalisme Barat. Namun, pengaruh dari konfusianisme untuk meningkatkan perkembangan ekonomi di Asia Timur tersebut dibantah dengan adanya pandangan dari Tu yang mengganggap kapitalisme yang terjadi Asia Timur tersebut less adversarial, less individualistic, dan less self- interest  (Kwon 2007, 56).

            Namun, terjadi krisis pada pertengahan tahun 1997. Krisis ini telah melanda negara-negara yang terletak di kawasan Asia Timur. Krisis tersebut tidak serta merta hanya memberikan dampak buruk bagi negara-negara yang berada di kawasan tersebut, melainkan mendapatkan dampak baik. Hal ini dapat dilihat dengan adanya penurunan dari standar nilai mata uang dan saham (Soekro et al. 2008, 35). Krisis yang terjadi di kawasan Asia Timur ini disebabkan karena adanya implicit guarantee. Implicit guarantee ini berpengaruh terhadap tindakan nilai tukar uang yang dianut oleh rezim nilai tukar di Asia Timur. Keadaan ini memperparah untuk terjadinya sebuah pembengkakan dalam pinjaman denominasi mata uang asing yang tidak di hedge karena pengaruh dari perjanjian dari implisit bahwa nilai tukar tidak akan di devaluasi. Selain itu, dengan terdapatnya implicit guarantee telah menyebabakn terjadinya moral hazard (Corsetti et al. 1998 dalam Soekro et al. 2008, 31). Krisis yang terjadi di kawasan Asia Timur merupakan krisis yang diawali dari Thailand. Krisis yang terjadi di Thailand ini kemudian berdampak pada collapse-nya pada aset domestik, jatuhnya perbankan, bangkrutnya perusahaan-perusahaan besar, dan terjadinya contagion effect yang sangat cepat terhadap ekonomi negara lainnya di kawasan (Krugman 1999 dalam Soekro et al. 2008, 37).

            Sebelumnya diketahui bahwa terdapat pertentangan yang membuat perlawanan dari tindakan kapitalisme di Asia Timur ini karena sikap etos kerja yang baik dan dimiliki di kawasan tersebut akibat dari adanya konfusianisme yang terjadi di kawasan Asia Timur. Hal ini dapat dibuktikan dengan pernyataan yang tertulis di dalam artikel Kwon (2007, 57), yaitu “The post-Confucian scholars stress that East Asians have in common economic ethics that advocate competitive activism, hard work, thrift, education fever, and respect for authority, which are conducive to East Asia's success. They argue that these ethical precepts directly come from Confucianism”. Selain itu, dengan kemampuan dalam etos kerjanya yang tinggi tersebut juga membuat adanya perilaku dalam penghasilan produk untuk ekonomi yang semakin meningkat dalam kegiatan ekspornya (Landsberg dan Burkett 1998, 88). Namun, dalam perkembangan ekonomi yang dirasakan di kawasan Asia Timur tersebut juga karena terbentuknya sebuah kebijakan yang bernama developmental state. Model ini menganggap negara sebagai aktor utama dan memiliki kekuasaan yang dalam memperjuangkan national interest (Sagena59).

            Konfusianisme yang terjadi di kawasan Asia Timur tersebut kemudian meruntuhkan segala argumen yang mengatakan bahwa konfusianisme mampu untuk meningkatkan perkembangan politik di Asia Timur karena dengan adanya konfusianisme tersebut menyebabkan terjadinya krisis di Thailand yang kemudian memberikan dampaknya kepada Korea Selatan. Hal ini dapat dilihat dengan adanya dampak yang disebabkan karena krisis tersebut, yaitu ketidakstabilan politik, krisis keuangan, dan manipulasi pasar (Soekro et al. 2008, 44). Selain itu, krisis yang dirasakan di kawasan Asia Timur ini juga tidak jauh dari krisis yang sebelumnya dirasakan pada kapitalisme barat. Konfusianisme yang ada ini telah menyebabkan adanya pasar keuangan internasional yang semakin tidak stabil hal ini juga menjadi tanda bukti akan memunculkan boom and bust cycle karena adanya pengaruh dari kehancuran neraca pembayaran (Soekro et al. 2008, 44).

            Krisis yang terjadi di Asia Timur ini menjadi bukti bahwa dengan adanya konfusianisme bukan berarti akan mampu untuk meningkatkan perkembangan ekonomi di kawasan Asia Timur. Namun, dengan adanya konfusianisme juga menyebabkan kehancuran sendiri bagi kawasan tersebut. Hal ini juga bukan merupakan salah satu dampak yang tidak dapat memberikan pengaruh positif karena terdapat pernyataan yang menyebutkan bahwa dengan adanya krisis di kawasan Asia Timur ini menurunkan standar nilai mata uang dan saham. Namun, tidak dilupakan juga dengan pengaruh konfusianisme tersebut telah mampu memberikan masukan terhadap tingkat etos kerja yang tinggi karena dianggap mampu untuk membantu dalam meningkatkan perkembangan ekonomi.

 

Referensi:

Krugman, Paul. 1983. “New Theories of Trade Among Industrial Countries”, dalam The American Economic Review, Vol. 73, No. 2, pp. 343-347 dalam http://www.jstor.org/discover/10.2307/1816867

Kwon, Keedon. 2007. “Economic Development in East Asia and a Critique of the Post-Confucian Thesis”. Theory and Society. Vol. 36, no. 1, pp. 55-83.

Landsberg, Martin Hart dan Paul Burkett. 1998. ‘Contradictions of Capitalist Industrialization in East Asia: A Critique of “Flying Geese” Theories of Development”. Economic Geography. Vol. 74, no. 2, pp. 87-110.

N. n. T. t. South Korea, Singapore, Taiwan, Hongkong [online] dalam http://www.geographypods.com/uploads/7/6/2/2/7622863/newlyindustrialisingcountries-090901093223-phpapp01.ppt [diakses 15 Maret 2014]

Sagena, Uni. T. t. PERGESERAN MODEL PEMBANGUNAN EKONOMI DEVELOPMENTAL STATE JEPANG [online] dalam http://portal.fisipunmul.ac.id/site/wpcontent/uploads/2013/03/jsp_vol6_no12_unisagena%20(03-14-13-04-13-13).pdf [diakses 15 Maret 2014]

Soekro, Shinta R. I., et al., 2008. Bangkitnya Perekonomian Asia Timur: Satu Dekade Setelah Krisis.  [e-book]. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. dalam http://books.google.co.id/books?id=idZlSdIAMF4C&pg=PA39&lpg=PA39&dq=Bubble+economy+di+Asia+Timur&source=bl&ots=c4tm2SwfuU&sig=GTHBpvcUoVvlErDnp1t_LbxiWl4&hl=id&sa=X&ei=hSMkU7_gHebUigeapIC4DQ&ved=0CC4Q6AEwAQ#v=onepage&q=Bubble%20economy%20di%20Asia%20Timur&f=false [diakses 15 Maret 2014]

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :