Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Korea Selatan

            Pembentukan Korea Selatan karena pelepasan kekuasaan dari Jepang yang mengalami kekalahan pada Perang Dunia II. Pelepasan yang dilakukan Jepang tersebut kemudian berpengaruh terhadap terbentuknya Korea yang menjadi dua bagian, yaitu Korea Peninsula dengan pembentukan Republic of Korea dan Democratic People’s Republic of Korea (kbriseoul.kr). Paat Jepang menduduki wilayah Korea menyebabkan wilayah tersebut mengalami penderitaan karena dengan penjajahan tersebut Korea tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Hal tersebut menyebabkan kemunduran dalam bidang edukasi dalam kawasan tersbut (Park 2010, 116). Sebelumnya, Korea merupakan bentukan negara yang menjadi satu, namun akibat dengan adanya Perang Dingin, yaitu antara pihak Amerika Serikat dan Uni Soviet, dalam menyebarkan paham ideologinya masing-masing menyebabkan terjadinya proxy war di berbagai belahan dunia, khususnya Korea Utara dengan Korea Selatan. Dengan pecahnya Korea, yaitu Korea Utara dan Korea Selatan mengakibatkan kedua negara tersebut hingga kini masih mengalami ketegangan. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap perkembangan dari masing-masing negara tersebut misalnya saja dalam hal domestik (politik dan ekonomi) dan isu perang-damai dari keduanya. Selain itu, Korea Selatan disebut-sebut sebagai salah satu “Macan Asia” karena pengaruh dari pengembangan pasar yang berhasil menembus pasar Amerika Serikat akibat pengaruh dari perjanjian KORUS FTA (Korea-US Free Trade Agreement) (kbriseoul.kr).

            Korea Selatan dikenal dengan Newly Industrializing Countries. Sebutan yang disandang oleh Korea Selatan tersebut merupakan salah satu bukti bahwa Korea Selatan telah mampu membuktikan negaranya mampu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan cepat. Perkembangan ekonomi yang terjadi akibat dari pengaruh konfusianisme yang terbentuk di Korea Selatan. Pengaruh dari konfusianisme tersebut merupakan tradisi yang digunakan dalam sistem pemerintahan Korea Selatan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonominya, namun bukan hanya pada bidang ekonomi saja melainkan politik juga terpengaruh karena konfusianismenya (Sleziak 2013, 28). Konfusianisme tersebut juga membawa dampak menuju ke arah yang lebih baik karena dianggap mampu untuk menjadi leader of a father, meritokrasi (kemampuan sebagai penentu jabatan), dan mandiri (self reliance) dengan menolak FDI (Hennida 2014).

            Pertumbuhan ekonomi yang dirasakan oleh Korea Selatan saat ini tidak sebanding dengan penderitaan yang telah dirasakannya ketika pada masa Jepang menduduki wilayahnya tersebut. Namun, Korea dalam permasalahan ekonominya tersebut terlihat sangat bergantung kepada pemerintah Jepang sebagai pemerintah kolonialnya (Park 2010, 116). Irama pertumbuhan ekonomi yang dirasakan di Korea Selatan mengalami dinamika naik turun karena pengaruh perang yang terjadi antara Korea Selatan dengan Korea Utara pada tahun 1950-an. Penyebab peperangan yang terjadi diantara kedua negara tersebut kemudian menyebabkan Korea Selatan lebih menggantungkan dirinya kepada financial aid dan  foreign assistance. Namun, pemerintah Korea Selatan tidak tinggal diam dalam memainkan untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi negaranya ini membuat adanya kebijakan dengan mengatur sistem fiskal dan moneter, serta budget dan tax reform di Korea Selatan (kbriseoul.kr). Pertumbuhan Korea Selatan dirasakan pada tahun 1964 dan 1971, yang dibuktikan dengan kenaikan dari GDPnya dan ekspor manufakturnya yang berhasil menandingi komoditas ekspornya pada kisaran 86% (Frank et al. 1975, 19). Selain itu, terlihat bahwa pada tahun 1961, Korea Selatan memiliki agenda bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Korea Selatan, yaitu dengan mengurangi ketergantungannya dengan negara lain. Tindakan yang digunakan oleh Korea Selatan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonominya tersebut dilakukan dengan mengadakan kerjasama dengan pebisnis dalam negeri. Hal tersebut bertujuan untuk meningkatkan industrialisasi di dalamnya (Park 2010, 119).  Pebisnis-pebisnis tersebut disebut dengan chaebols, perannya tersebut sangat berarti bagi kemajuan ekonomi Korea Selatan karena chaebols memiliki andil besar di dalamnya. Selain itu, kehadiran chaebols tersebut tidak sebanding dengan timbal balik yang dirasakan bagi rakyat Korea Selatan karena peran chaebols terlihat lebih memainkan monopoli pasar dalam mencapai keuntungan yang ingin diraihnya. Peran chaebols tersebut juga berpengaruh terhadap sudut pandang ekonomi yang digunakan oleh Korea Selatan, yaitu dari centrally-planned government direct investment menjadi market oriented model, yang kemudian berpengaruh terhadap pasar bebas Korea Selatan untuk menguasai pasar dunia seperti Hyundai, KIA, Samsung, dan LG (kbriseoul.kr). Chaebols yang terdapat di Korea Selatan tersebut juga memiliki sisi negatif dengan tindakan penyuapan yang dilakukan untuk melancarkan usahanya. Dalam hal tersebut terlihat bahwa intervensi pemerintah burhubungan dengan tindakan korupsi dan nepotisme yang dilakukan oleh chaebols untuk memaksimalkan keuntungan untuk chaebols dan pemerintah (Kang 2002, 180). 

            Beralih dari permasalahan ekonomi yang terjadi di Korea Selatan, keadaan politik Korea Selatan juga mengalami dinamika yang hampir setara dengan keadaan ekonomi yang terjadi di Korea Selatan. Hal tersebut dapat dilihat dengan terdapatnya pihak dari pro-otoriter dengan pihak pro-demokrasi yang saling beradu untuk menentukan sistem pemerintahan yang digunakan di Korea Selatan. Dalam Gu dan Ki (2012) dijelaskan bahwa konflik yang terjadi di antara pihak-pihak tersebut menghasilkan sebuah keputusan bahwa sistem perpolitikan yang digunakan di Korea Selatan tersebut adalah sistem demokrasi. Keputusan tersebut berdasarkan pemberontakan yang terjadi dalam melawan pihak pro-otoriter yang saat itu masih menguasai Korea Selatan. Namun, sebelum terjadinya konflik di antara pihak-pihak tersebut perpolitikan di Korea dikarenakan pengaruh dari tindakan penolakan komunisme dari Korea Selatan yang kemudian berujung dengan peperangan yang terjadi diantara Korea Utara dan Korea Selatan.

            Sistem demokratisasi yang dianut oleh Korea Selatan tersebut juga berpengaruh pada keadaan hubungan yang terjadi antara Korea Utara dan Korea Selatan. Hal tersebut dilihat dengan terjadinya perang di antara Korea Utara dan Korea Selatan juga berpengaruh dalam keadaan politik yang terjadi di dalam Korea Selatan. Hal tersebut berhubungaan dengan kebijakan yang dibuat masing-masing negara yang mewajibkan wajib militer untuk seluruh warganya, namun di Korea Selatan wajib militer tersebut hanya berlaku pada warga negara pria berumur 20 tahun. Selain itu, ketegangan yang terjadi di kedua negara tersebut juga masih dialami hingga saat ini, namun setelah terjadinya perang diantara keduanya dikatakan telah berakhir pada tahun 1953, yang ditunjukkan dengan adanya gencatan senjata. Tindakan gencatan senjata tersebut berujung pada tidak adanya komunikasi yang terjadi di dalamnya. Namun, dengan sistem demokratisasi yang dijalankan di Korea Selatan saat ini telah memberikan kemudahan karena Presiden Korea Selatan, Kim Dae-Jung, mengeluarkan kebijakan Sunshine Policy untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara (kbriseoul.kr).

            Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa Korea Selatan telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Kemajuan dari Korea Selatan tersebut tidak terlepas dengan pengaruh konfusianisme. Selain itu, peran chaebols juga ikut serta untuk menumbuhkan pertumbuhan ekonomi bagi Korea Selatan. Namun, dengan peran sertanya yang aktif tersebut menyebabkan terdapatnya tindakan korupsi dan nepotisme untuk mendapatkan keuntungan lebih. Keadaan perpolitikan yang terjadi di Korea Selatan lebih terlihat maju dengan berubahnya sistem perpolitika dari otoriter ke demokratisasi, yang ditunjukkan dengan perbaikan hubungan diantara Korea Utara dan Korea Selatan.

 

 

 

Referensi:

Frank, Charles R, Kim, Kwang Suk Jr & Westphal, Larry E. 1975. Foreign Trade Regimes and Economic Development: South Korea. National Bureau of Economic Research (NBER) PDF version., pp. 6-24

Hennida, Citra. 2014. Masyarakat Asia Timur, materi disampaikan pada kuliah MBP Asia Timur, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Airlangga, 24 Maret 2014.

Kang, David C. 2002. “Bad Loans to Good Friends: Money Politics and the Developmental State in South Korea”. International Organization. Vol 56, no. 1, pp. 177-207.

Kedutaan Besar Republik Indonesia. 2014. “Tentang Korea Selatan” [online] dalam http://kbriseoul.kr/kbriseoul/index.php/id/2013-01-21-22-49-05/berita-terkini/26-indonesian/tentang-korea/54-tentang-korea-selatan [diakses 4 April 2014]

Park, Josh. 2010. Confucianism in Korea’s Economic Revolution, International School of Business, Volume 3, Emory University

Sleziak, Tomasz. 2013. The Role of Confucianism in the Contemporary South Korea Society, Rocznik Orientalist.

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :