Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Korea Utara

Masa Perang Dingin yang menjadi awal pertarungan dari dua negara besar, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Dalam pertarungan yang mempengaruhi kedua negara tersebut telah menyebabkan terjadinya proxy war di kawasan (negara) lain seperti Korea. Korea menjadi terpecah belah karena pengaruh kedua negara yang ingin menyebarkan paham ideologinya. Namun, awal mula penyebaran ideologi ini karena pengaruh penyebaran komunisme yang dilakukan oleh Uni Soviet. Penyebaran paham komunis yang dilakukan Uni Soviet membuat Amerika Serikat tidak tinggal diam karena Amerika Serikat merasa bahwa dunia ini harus dilindungi dari pengaruh dari negara komunis tersebut. Maka, tindakan yang dilakukan Amerika Serikat adalah membuat benteng pertahanan yang diawali dengan pendekatan diri kepada negara lain. Tindakan yang dilakukan oleh Uni Soviet dalam melaksanakan penyebaran komunisnya berawal dari pendekatan di Korea Utara dengan adanya kerjasama dengan the people’s committees untuk memberikan kewarganegaraan Uni Soviet kepada rakyat Korea yang sebelumnya menjadi migran di Siberia. Pemberian kewarganegaraan tersebut merupakan salah satu bantuan yang diberikan Uni Soviet untuk membantu dalam pelaksanaan administrasi di Korea (Seth 2011, 310). Selain itu, dengan pengaruh yang dilakukan oleh Uni Soviet tersebut merupakan salah satu cara yang diyakini untuk membawa kedamaian yang berada di bawah kekuatan Uni Soviet. Namun, Amerika Serikat juga melakukan tindakan pencegahan dengan mendekati Korea Selatan. Pendekatan tersebut dengan pelaksanaan kekuatan militer Amerika Serikat yang dipindahkan ke Korea Selatan (Seth 2011, 311).

            Pengaruh Uni Soviet di Korea Utara kemudian berpengaruh terhadap paham yang dianutnya. Paham komunisme yang tersebar di Korea Utara tersebut juga membawa pada sistem perpolitikan luar negerinya yang lebih tertutup. Paham ideologi yang digunakan di Korea Utara dikenal dengan sebutan juche. Juche merupakan ideologi yang berpusat pada teori untuk mengadilkan sistem tunggal. Pemahaman mengenai sistem tunggal tersebut lebih dikenal pada masa pemerintahan Kim Il Sung. Selain itu, juche pada pemerintahan Kim Il Sung juga dikenal dengan pemujaan untuk Kim Il Sung karena didukung oleh konstitusi (world.kbs.co.kr t. t.). Juche yang dianggap sebagai self reliance dari penerapan ideologi Korea Utara tersebut merupakan salah satu penerapan dari ketergantungan dalam berhubungan dengan sedikit negara (Wang 1997, 288).

            Korea Utara merupakan negara di Asia Timur yang dikenal selalu ingin mengembangkan teknologi nuklir. Teknologi nuklir yang ingin dikembangkan di Korea Utara tersebut berbanding terbalik dengan keadaan militernya. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya kepemilikan dari tank-tank yang sudah usang (Adinata 2012, 2). Namun, dengan kepemilikan militer yang konvensional tersebut, Korea Utara dalam pemerintahannya masih memiliki hubungan dengan militer karena kekuasaan pemerintahan yang berada di bawah militer. Hal tersebut menggambarkan bahwa hubungan antara sipil dengan militer memiliki hubungan yang baik. Namun, dalam perjalanannya, Korea Utara terlihat lebih mementingkan untuk mengembangkan teknologi militernya, yang dikenal sebagai pemusnah massal dikenal dengan weapons of mass destruction (WMD) sebagai jalan keluar dari negara tersebut dan menuju pada bentuk pada pasar gelap global (Bennett dan Lind 2011, 85).

            Terdapatnya WMD yang dimiliki Korea Utara merupakan salah satu cara untuk mengatasi keruntuhan dari Korea Utara. Keruntuhan yang mungkin akan dirasakan oleh Korea Utara merupakan serangkaian dari bencana yang terdapat di semenanjung dan potensi yang ada tidak akan mempengaruhi kawasan regional maupun global. Keruntuhan yang dirasakan oleh Korea Utara ini berhubungan dengan perebutan kekuasaan yang terjadi di antara sipil dan militer (Bennett dan Lind 2011, 88). Selain itu, keruntuhan yang dirasakan oleh Korea Utara tersebut akan berakibat pada krisis kemanusiaan. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya penduduk dari Korea Utara yang mengalami malnutrisi berat (Bennett dan Lind 2011, 85). Selain itu, keruntuhan yang dirasakan di Korea Utara juga dapat menimbulkan masalah besar dengan Korea Selatan dan negara-negara lainnya yang memiliki kepentingan lain dalam hal mitigasi. Hal tersebut juga menjadi salah satu bukti bahwa Korea Utara mengalami kegagalan dalam hal turning point yang dilakukannya (Bennett dan Lind 2011, 90). Dalam mengatasi keruntuhan yang dirasakan oleh Korea Utara, militernya juga memiliki misi utama untuk mengurangi masalah tersebut, yaitu dengan pelaksanaan stability operations, yang mencakup didalamnya direct humanitarian relief dan policing of major cities and roads, border control, elimination of WMD, disarmament of conventional weapons, dan deterrence or defeat of any military resistance (Bennett dan Lind 2011, 90).

            Keruntuhan yang dialami oleh Korea Utara juga merupakan salah satu perencanaan dari negara-negara lain seperti Amerika dan Korea Selatan. Kedua negara tersebut mengambil tindakan untuk melakukan operasi militer terhadap Korea Utara (Bennett dan Lind 2011, 86). Dalam pelaksanaan dari perencanaan keruntuhan Korea Utara tersebut terdapat kebijakan-kebijakan yang harus dibuat untuk mewujudkannya, yaitu Korea Selatan harus memiliki keadaan stabil dalam hal pertahanan dan keamanannya dan kerjasama yang dilakukan dengan China oleh Amerika dan Korea Selatan. Hal tersebut berlaku karena pada saat Korea Utara mengalami keruntuhan, maka China yang akan mampu menaikkan atau menstabilkan keadaan dari Korea Utara (Bennette dan Lind 2011, 87). Dalam merencanakan keruntuhan yang mungkin akan dilakukan di Korea Utara tersebut harus dipikirkan secara matang karena dengan keruntuhan yang gagal untuk diwujudkan akan berakibat pada kekacauan dunia. Hal tersebut berkaitan dengan kepemilikan nuklir yang dimiliki oleh Korea Utara yang berjumlah dua (Bennett dan Lind 2011, 117).  

            Namun, terdapat perbedaan lain ditunjukkan melalui kemajuan dari negara tetangganya, yaitu Korea Selatan. Korea Selatan menunjukkan kemajuan yang cukup pesat karena dapat memajukan peranan ekonomi untuk wilayah negaranya. Hal tersebut dapat dilihat dengan kerjasama yang dilaksanakan oleh pemerintah dengan chaebols (Seth 2011, 339). Namun, selain dengan kerjasama yang dibentuk oleh pemerintah Korea Selatan dengan chaebols tersebut, Korea Selatan memperbaiki dirinya pasca kejatuhannya saat proxy war, yaitu dengan bantuan yang dislaurkan oleh Amerika. Bantuan tersebut juga menjadi salah satu tujuan yang ingin mempengaruhi Korea Selatan dengan paham demokratis yang dianutnya. Selain itu, kemajuan yang ditunjukkan oleh Korea Selatan tersebut tidak berujung sama dengan Korea Utara. Hal tersebut menunjukkan perbedaan yang sangat tumpang tindih karena dua negara yang bersebelahan secara geografis tidak menunjukkan tanda-tanda sama dalam mencapai kemajuan. Kondisi yang dialami oleh Korea Utara tersebut karena pengaruh dari penutupan dirinya dari pengaruh luar. Tindakan yang dilakukan oleh Korea Utara tersebut menjadikan adanya pandangan dari pihak-pihak luar dalam menyebut dirinya sebagai negara yang terisolasi di kancah internasional (Seth 2011, 340).

            Korea Utara tidak dapat dikatakan sebagai negara yang runtuh. Namun, keberadaannya di kancah dunia seakan ditunggu-tunggu untuk mengalami keruntuhan. Keruntuhan Korea Utara seakan diimpikan bagi negara lain yang memiliki maksud lain di dalamnya. Jika, Korea Utara dikatakan runtuh mungkin akan lebih mengacu pada kehidupan masyarakatnya yang hancur dan tidak adanya perhatian dari pemerintahnya. Selain itu, penutupan diri dari Korea Utara menjadi salah satu alasan yang mungkin akan menyebabkan kemunduran secara perlahan dari Korea Utara. Kemunduran yang secara perlahan membawa pada keruntuhan yang akan dirasakan oleh Korea Utara.

 

 

 

 

Referensi:

Adinata, Gumilar. 2012. “Hubungan Sipil-Militer Korea Utara Pada Masa Kim Il Sung” [online] dalam http://www.academia.edu/4522948/Hubungan_Sipil-Militer_Korea_Utara_Pada_Masa_Kim_Il-Sung [diakses 9 April 2014]

Bennett, Bruce W. & Jennifer Lind. 2011. “The Collapse of North Korea: Military Missions and Requirements”. International Security. Vol. 36, no. 2, pp. 84-119.

KBS World. T. t. “Ideologi Juche (Mandiri Secara Swasembada)” [online] dalam http://world.kbs.co.kr/indonesian/event/nkorea_nuclear/general_04b.htm [diakses 9 April 2014]

Seth, Michael J.. 2011. A History of Korea: from Antiquity to the Present. Plymouth: Rowman & Littlefield Publishers, Inc. Ch. 12 & 15, pp. 339-372; 437-464.  

Wang, James C. F. 1997. Comparative Asian Politics. New Jersey: Prentice Hall.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :