Amanda Rizki Yuanita


Run and Jump !

Perkembangan Geopolitik dan Geostrategi Setiap Masa

Geopolitik yang terjadi di dunia ini selalu mengalami perkembangan. Geopolitik dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari mengenai kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan dengan keterkaitannya dalam aspek yang menyangkut keadaan geografisnya. Namun, sebelumnya geopolitik tidak bisa dilepas begitu saja tanpa adanya geostrategi. Keberadaan dari geostrategi memiliki keterikatan erat oleh geopolitik karena geostrategi dianggap sebagai pelaksana dalam geopolitik. Geopolitik dianggap sebagai hal-hal yang berpengaruh terhadap kondisi geografis yang nantinya akan mendukung kepentingan nasional negara (Sulistyo 2014). Selain itu, keberadaan dari geopolitik telah memunculkan adanya teori-teori yang dibuat oleh kaum-kaum intelektual, khususnya para ahli seperti yaitu Friedrich Ratzel dan Karl Haushofer. Menurut Friedrich, teori geopolitik merupakan suatu wilayah yang memerlukan ruang hidup dan semakin luas yang didasari untuk memenuhi kebutuhanya. Hal tersebut dimaksudkan bahwa dengan adanya kebutuhan dari negara tersebut akan mampu untuk mendesak dari keberlangsungan kehidupan negara lain karena pengaruh akan sumber dayanya yang semakin tinggi. Sedangkan, menurut Haushofer, teori geopolitik didasarkan pada teori ruang dan kekuatan. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya pembagian dalam keberadaan dari Lebensraum, autarki, dan pembagian dunia yang dibagi menjadi empat kawasan (Pan Region) (Unhas LMS t. t.).

            Masa-masa terjadinya geopolitik tersebut dapat dibagi berdasarkan polis, imperium, dan the new world order. Pembagian yang terjadi ini secara singkat telah menjelaskan bahwa keberadaan dari geopolitik ini dapat berubah sesuai dengan keadaan yang dialami dari setiap masa-masa tersebut dengan dilihat perubahan pada aspek time, space, people, dan struggle. Pemahaman yang mencakup pada aspek time tersebut berpengaruh pada dinamika terhadap fenomena yang terjadi pada setiap masa. Aspek space mengenai ruang yang dijadikan sebagai objek geopolitik. Aspek people mengenai aktor-aktor yang berpengaruh dalam setiap masa (geopolitik). Sedangkan, aspek struggle membahas mengenai usaha yang dilakukan negara untuk survive dalam pencapaian pemenuhan kebutuhan hidupnya (Sulistyo 2014).

            Perubahan pada masa polis ini dapat dilihat dengan keberadaan yang bermula pada abad ke-16, yang ditandai dengan pelayaran yang dilakukan oleh Vasco da Gama dan Columbus. Pelayaran yang dilakukan oleh kedua belah pihak tersebut dianggap sebagai penanda bahwa keadaan geopolitik telah berubah, yaitu pada masa polis. Pada masa polis keadaan geopolitik masih berfokus pada wilayahnya masing-masing atau dapat dikatakan masih berpusat pada pelaksanaan dari tindakan diplomasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa geopolitik pada masa polis masih memegang teguh pada pelaksanaan yang masih berpusat pada city-state. Namun, dengan perbedaan dari keberadaan dua masa geopolitik tersebut telah menjelaskan bahwa pada masa setelah masa polis tersebut telah semakin membuka perdagangan yang terjadi di dunia. Pelayaran yang dilakukan oleh Vasco da Gama maupun Columbus telah mampu membuka tatanan dunia yang saling terbuka untuk membuka pasar dunia. Dalam Grygiel (2006, 42) dijelaskan bahwa perdagangan tersebut mampu membuka jaringan global. Selain itu, dengan keterbukaan yang terjadi tersebut mampu untuk  mempermudah kebutuhan yang dibutuhkan oleh masing-masing pihak. Keterbukaan yang terjadi ini berlangsung pada negara-negara yang khususnya berada pada kawasan Eropa dan Asia. Perdagangan yang berlangsung ini juga membawa tujuan atau maksud lain dengan menyebarkan paham-paham keyakinan dari setiap kawasan.

            Kembali pada masa imperium, yang bisa dijelaskan dengan keberadaan dari Kekaisaran Ottoman. Masa tersebut lebih menekankan pada tindakan perebutan wilayah yang berpihak pada keuntungan yang ingin diambil dari sumber daya dan perdagangannya. Kekuasaan ini lebih berfokus pada perebutan kekuasaan terhadap land power. Kekuasaan dari land power dianggap sebagai hal yang terpenting dibandingkan dengan kekuasaan pada wilayah perairan (Spyksmen 1944). Selain itu, dalam Grygiel (1972) dijelaskan bahwa masa imperium ini terletak pada tindakan ekspansinya. Penyebaran yang dilakukan tersebut telah diungkapkan pada paragraf sebelumnya mengenai pembukaan perdagangan yang semakin global dan penyebaran agama-agama yang dilakukan sebagai salah satu tujuan yang dilakukan dari pedaganga-pedagang masa tersebut. Keberadaan dari imperium tidak dapat dikatakan sebagai kekuasaan yang tunggal karena kekuasaan dari masa tersebut menjadi hancur karena terjadinya perubahan pemetaan geopolitik untuk kawasan Asia yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut. Hal tersebut sesuai dengan kejadian yang dialami pada masa Kekaisaran Ottoman (Grygiel 2006, 88).

            Kehancuran yang dirasakan pada masa imperium tersebut kemudian digantikan dengan kemunculan sistem nation-state. Hilangnya masa tersebut karena keberadaan dari Perjanjian Westphalia. Perjanjian tersebut dianggap mampu untuk merubah keadaan dari negara-negara yang sudah diakui kedaulatannya di dunia internasional (Watson 1992, 186). Namun, keberadaan dari nation-state telah dianggap menciptakan sebuah keadaan dunia yang baru disebut dengan the new world order. Kemunculan dari the new world order ini tidak terlepas dari keberadaan Perang Dingin. Hal tersebut dapat dilihat dengan Perang Dingin keberadaan dari negara superpower, yaitu Amerika, yang terlihat lebih dominan. kedominannya ini dianggap sebagai bentuk yang menandakan bahwa keadaan geopolitik yang terjadi sebelumnya setidaknya sudah merubah bentuknya secara perlahan. Keberadaan dari Amerika ini seakan membuat wajah baru dalam perpolitikan yang terjadi di dunia. Keberadaan dari Amerika ini memang lebih terlihat dengan pada masa Perang Dingin karena pada masa tersebut Amerika sedang berkonflik dengan Uni Soviet. Keberadaan dari kedua negara ini ingin memberikan influence terhadap negara-negara lain. Keadaan tersebut kemudian merubah padangan dunia bahwa keadaan dunia saat ini lebih dipengaruhi dengan keberadaan dari sikap yang harus ditentukan dalam menentukan kebijakan luar negeri yang akan digunakan. Dalam O Tuathail et. al (1998) dijelaskan bahwa permasalahan tersebut kemudian merubah pandangan dari geopolitik pada saat itu bahwa geopolitik lebih mengarah pada sebuah tindakan, yaitu cara dalam melawan kekuatan dari negara lain. cara yang diberlakukan kedua negara tersebut terlihat dengan keberadaan dari nuklir. Keberadaan nuklir tersebut seakan sebagai sebuah penggertak untuk menunjukkan kekuatan yang paling kuat.

            Namun, pendapat berbeda dari pemikirian Gorbachev mengenai keberadaan nuklir. Dalam artikel Gorbachev (1998) menjelaskan bahwa nuklir dianggap sebagai tindakan irrasional. Hal ini dimaksudkan bahwa dengan nuklir akan dapat mengganggu ketentraman dunia. Selain itu, nuklir tersebut juga akan memunculkan adanya efek total destruction dan balance of terror. Pemikiran Gorbachev ini berhubungan dengan adanya perubahan dari anggapan bahwa dengan adanya lawan harus diubah menjadi mitra. Perubahan pandangan ini kemudian akan membantu dalam pemikiran bahwa dunia akan menjadi lebih aman karena terdapat perdamaian yang akan mampu menggeser kepentingan individu (suatu negara) yang nantinya akan lebih condong dengan terbentuknya keamanan. Hal ini kemudian menunjukkan bahwa geopolitik pada masa perang dingin lebih mengarah pada tindakan preventif dan defensif.

            Kemunculan dari the new world order tersebut, kemudian berpengaruh terhadap berakhirnya end of history. Hal tersebut dimaksudkan karena pasca Perang Dingin dua negara superpower yang ingin mempengaruhi dunia akhirnya ditentukan dengan hasil bahwa Uni Soviet terpecah belah dan paham liberalisme semakin mendunia (Fukuyama 1998, 122). Selain itu, dengan kemunculan dari tatanan sistem dunia yang baru tersebut telah memberikan dampak terhadap kemunculan dari globalisasi yang tampak semakin nyata. Dampak tersebut dijelaskan di dalam Agnew (2001) dengan semakin terbukan perdagangan yang ditandai dengan keterbukaan pasar yang semakin bebas ini semakin mampu untuk merubah dunia untuk mengarah pada terjadinya revolusi pada bidang pengeahuan dan teknologi, serta dengan semakin mengarahnya dunia pada sistem yang semakin menghomogenisasi pada aspek-aspek tertentu seperti aspek budaya dan ekonomi.

            Globalisasi yang mempengaruhi dunia ini juga telah menyadarkan bahwa keterkaitan geopolitik pada the new world order ini masih dipengaruhi dari keberadaan imperialisme (masa imperium). Imperialisme tersebut dapat terlihat dengan keberadaan makanan-makanan cepat saji yang tersebar di seluruh dunia. Hal tersebut dilakukan karena kaum imperialis beranggapan bahwa negara akan melakukan tindakan apapun untuk mencapai tujuannya. Tujuan tersebut kemudian mempengaruhi pada keadaan geopolitik pada masa the new world order. Selain itu, sistem tatanan dunia baru ini telah memunculkan adanya penggolongan dari negara-negara yang ada di dunia, yaitu superpower, major power, dan minor power. Namun, terdapat pendapat berbeda yang dijelaskan oleh Agnew (1998) mengenai pembagian dunia, yaitu civilizational geopolitic, naturalized geopolitic, dan ideological geopolitic.

            Berdasarkan uraian dia atas, maka disimpulkan bahwa keberdaan dari geopolitik dan geostrategi ini telah memberikan penjelasan bahwa geopolitik dan geostrategi pada setiap masa memiliki karakteristik masing-masing. Geopolitik ini memiliki pandangan utamanya dalam diskursus politik internasional. Dalam hal ini ditekankan untuk menguasai dunia dengan memegang kondisi termgeografisnya. Selain itu, terdapat penjelasan bahwa pola dunia terbagi atas tiga, yaitu heartland, inner crescent, dan outer crescent. Geopolitik lebih mengacu pada hubungan yang menggabungkan antara teori Darwin dengan perjuangan geopolitik terhadap ruang. Geopolitik yang lebih menekankan fokusnya pada wilayah lautan (Putra t. t.). Namun, dengan karakteristik tersebut juga terdapat hal yang paling berpengaruh dari keadaan geopolitik yang berhubungan potensi sumber daya alam. Keberadaan dari geopolitik tersebut disesuaikan dengan perkembangan yang dialami dari masa ke masa dan disesuaikan dengan kepentingan yang ingin dicapai dari masing-masing pihak. Keberadaan dari geopolitik tersebut secara ringkas dijelaskan sesuai dengan time, space, people, dan struggle.

 

Referensi :

Agnew, John. 1998. “Geopolitics: Re-visioning World Politics” by Routledge, 11 New Fetter Lane, London, EC4P 4EE pp. 1-165.

Agnew, John. 2001. The New Global Economy: Time-Space Compression Geopolitics and Global Uneven Development. 

Fukuyama, Francis. 1998. The End of History?, from National Interest, dalam The Geopolitics Reader, New York: Routledge

Grygiel, Jakub J. 2006. “Great Power and Geopolitical Change”. Maryland: The John Hopkins University Press.

O Tuathail, Gearoid, John Agnew. 1992. “Geopolitics and Discourse: Practical Geopolitical Reasoning in American Foreign Policy” dalam Gearoid O Tuathail, Simon Dalby dan Paul Routledge. 1998. The Geopolitics Reader. London dan New York : Routledgehal 78-90

Putra, Adhitia Pahlawan. t. t. “Memahami Geopolitik, Geoekonomi, dan Geokultur” [online] dalam http://www.academia.edu/2624135/Memahami_Geopolitik_Geoekonomi_dan_Geokultur [diakses 9 Maret 2014]

Spykman, Nicholas. 1944. “The Geography of the Peace”. New York: Harcourt, Brace.

Sulistyo, Djoko. 2014. Geopolitic and Geostrategy, dalam kuliah Geopolitik dan Geostrategi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga

Unhas LMS. T. t. “Geopolitik Indonesia” [online] dalam http://lms.unhas.ac.id/claroline/backends/download.php?url=LzEwLl9HRU9QT0xJVElLXy5kb2M%3D&cidReset=true&cidReq=MKU107UU3 [diakses 27 Maret 2014]

Watson, A. 1992. The Evolution of International Society. London: Routledge.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :